Rabu 16 Aug 2023 05:34 WIB

Fakta Kekayaan Alam RI Dinikmati China Versi Faisal Basri Vs Bantahan Luhut dan Jokowi

Menurut Faisal Basri hilirisasi saat ini menguntungkan negara lain bukan industri RI.

Ekonomi Faisal Basri.
Foto:

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membantah tudingan yang menyebut bahwa hilirisasi industri hanya menguntungkan bagi China. Bantahan itu merespons pernyataan Faisal Basri.

"Nggak betul kan sudah ada baca tulisan itu ya itu saja baca, kan ada angkanya di sana," kata Luhut di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip pada Selasa (15/8/2023). 

Luhut menegaskan, data yang diterima Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa negara mendapatkan keuntungan berkali lipat dari hilirisasi industri tersebut berasal dari kementeriannya. 

"Bukan sependapat (dengan Jokowi), kan kita yang feeding Pak Jokowi, jadi data itu. Dan Pak Jokowi nggak mungkin kita beri data yang tidak benar," ucap dia. 

Menurutnya, komentar yang disampaikan Faisal Basri tersebut justru tak berdasarkan penghitungan data secara cermat.  "Orang saja yang berkomentar tidak melihat data dengan cermat. Yang diberi tahu itu hanya iron steel yang 415 atau berapa itu, dia lupa sudah kita anu matte sudah ada terus kemudian hpal juga ada, banyak sekali produk lain yang tidak diketahui dia, sehingga data itu saja yang keluarkan itu," jelas Luhut. 

Sebelumnya, Presiden Jokowi juga membantah pernyataan Faisal Basri yang menyebut hilirisasi yang dilakukannya tak menguntungkan industri di dalam negeri. Jokowi menegaskan bahwa hilirisasi industri justru memberikan keuntungan besar bagi negara. 

"Ngitungnya gimana. Kalau itungan kita contoh saya berikan contoh nikel. Saat diekspor mentahan, bahan mentah setahun kira-kira hanya Rp 17 triliun, setelah masuk ke industrial downstreaming, ke hilirisasi menjadi Rp 510 triliun," ujar Jokowi di Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta, Kamis (10/8/2023). 

Jokowi menjelaskan, pendapatan yang dihasilkan negara dari hasil pajak hilirisasi industri pun menjadi lebih tinggi. Selain itu, negara juga memperoleh pendapatan dari PPN, PPH badan, PPh karyawan, PPH perusahaan royalti bea ekspor, dll. 

"Bayangkan saja kita negara itu hanya mengambil pajak, mengambil pajak dari Rp 17 T sama mengambil pajak dari Rp 510 T lebih gede mana? Karena dari situ, dari hilirisasi kita bisa mendapatkan PPN, PPH badan, PPH karyawan, PPH perusahaan royalti bea ekspor, penerimaan negara bukan pajak semuanya ada di situ. Coba dihitung saja dari Rp 17 T sama Rp 510 T gede mana?," jelasnya. 

Jokowi menegaskan, kontribusi hilirisasi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) justru lebih besar. Sebab, ada nilai tambah yang dihasilkan dari hilirisasi bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. 

photo
Melihat Infrastruktur Pendukung Kendaraan Listrik - (Tim Infografis)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement