Ahad 16 Jul 2023 07:30 WIB

Inilah Sumber Penyimpangan Akidah Al-Zaytun Menurut Mantan Komandan NII KW 9

Al Zaytun diduga bermahzab Muktazillah yang menuhankan akal.

Polisi melakukan penjagaan Mahad Al-Zaytun, Kecamatan Gantar, Kabupaten indramayu, Kamis (6/7/2023). (ilustrasi)
Foto:

Sekte Muktazilah dan mereka yang sepaham mengadopsi ilmu filsafat sebagai perangkat pendukung untuk mendalami, memahami, dan mengamalkan Islam. Karena berakidah sekte Muktazilah, NII Al-Zaytun tidak mengambil ilmu dari kitab tafsir yang sudah masyhur, hadits, dan perkataan ulama Ahlussunah wal Jamaah.

Di samping itu, dalam skala nasional ada sekte lokal yang sejalan dengan akidah Muktazilah dengan nama "Ajaran Isa Bugis", yang telah dilarang sejak tahun 1970 ketika Menteri Agamanya, Buya Hamka. Untuk melanggengkan ajarannya dan mengecoh kaum Muslimin, NII Al-Zaytun mengadopsi Ajaran Isa Bugis dengan mengadakan pengajian secara tertutup dari rumah ke rumah dan tersembunyi guna merekrut jamaah baru agar berhijrah ke NII Al-Zaytun dengan berbaiat dan berkewajiban membayar infak dan lainnya setiap bulan.

Metode pengajian sembunyi-sembunyi tersebut mereka praktikkan sebagai pengejawantahan akidah Muktazilah dengan dasar dalil dari salah satu nama surat, Al-Kahfi (Gua). Gua dalam kisah Ashabul Kahfi mereka artikan tempat-tempat tersembunyi untuk mendoktrin ajaran NII dalam rangka merekrut jamaah baru.

Peran ilmu filsafat dalam akidah sekte Muktazilah meminggirkan dalil-dalil dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits karena menuhankan  akal. Terutama dalil-dalil yang terkait alam gaib yang tidak terjangkau akal. Mereka tidak beriman dengan syafaat Rasulullah kepada orang-orang beriman yang berbuat dosa dan perihal adanya nikmat serta azab kubur. Karena itu, tak perlu heran jika makna syafaat dalam perkara dosa di NII Al-Zaytun merasionalkannya dengan tebusan uang bagi anggota jamaahnya yang bermaksiat.

Penuhanan akal dalam akidah Muktazilah mengontaminasi keimanan hingga sampai pada titik nadirnya. Dari menafsiri dalil-dalil Al-Qur'an dan Al-Hadits secara serampangan sampai mempertanyakan eksistensi Tuhan. Tak ayal jika para pendewa akal tersebut terjemus dalam ideologi Komunis, sebagaimana pengakuan Panji Gumilang yang lantang lagi viral itu.

Bahkan, lebih jauh mereka berupaya melenyapkan agama dengan berbagai makarnya karena agama dianggap sebagai sumber permusuhan dan peperangan. Tidak hanya sampai di situ, sekte Muktazilah juga berakidah Wihdatul Adyan. Yakni, keyakinan semua agama adalah satu, sama dan benar.

Hal ini tampak jelas dari bergabungnya orang non-Muslim dalam shalat di masjid Al-Zaytun. Termasuk salam Yahudi, nyanyian di masjid, dan anjuran untuk para santri mengkaji perjanjian lama dan baru. Penuhanan akal oleh sekte Muktazilah dengan dasar pemikiran yang diambil dari ilmu filsafat merusak keyakinan beragama dari dasar hingga puncaknya.

 

 

Lanjut pada tulisan berikutnya

 

 

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement