Sabtu 15 Jul 2023 01:11 WIB

PPDB SMAN 2 Kota Bekasi dan Cerita Banyak yang Datang Bawa Calon Murid Minta Diloloskan

Setiap masa PPDB, Wakepsek SMAN 2 Bekasi mengaku kerap didatangi tamu tak diundang.

SMAN 2 Kota Bekasi, Jawa Barat.
Foto: Dok Pemkot Bekasi
SMAN 2 Kota Bekasi, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ali Yusuf

Asap rokok di pos keamanan SMAN 2 Bekasi bergulung-gulung membentuk seperti awan melingkar, saat Republika tiba pada Kamis (13/7/2023) sore. Terlihat dua orang di ruangan 1,5x1,5 meter itu sedang santai berbincang sambil menikmati rokok.

Baca Juga

"Ada keperluan apa," tanya salah satu di antara mereka kepada Republika, Kamis sore menjelang Ashar. 

Saat Republika, menyampaikan maksud dan tujuan, salah satunya lagi berkata. "Sudah sore besok aja lagi supaya ketemu kepala sekolah," katanya.

Dengan nada logat Betawi, itu pria itu ingin mengingatkan jika mau datang bertanya terkait informasi sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sebaiknya datang sebelum ashar.

 "Ngapa sih sore-sore. Kepala sekolahnya juga sudah pulang," katanya.

Setelah panjang lebar berbincang, akhirnya pria yang belakangan diketahui bernama Edi itu minta Republika menunggu di ruangan tamu. Edi sebagai guru olahraga itu berjanji akan memanggil orang yang pantas menyampaikan segala informasi yang terkait dengan PPDB. 

Menurutnya, meski dia sebagai Humas di SMAN 1 Bekasi tak etis bicara masih ada atasanya. "Iya (Humas) tapi masih ada yang paling berwenang," katanya.

Sekitar 30 menit menunggu, orang yang dipanggil Edi tidak kunjung datang, akhirnya Republika keluar ruang tunggu melewati kolam ikan hiasa yang airnya sudah hijau. Selepas Ashar, seorang pria mengenakan pangsi Betawi warna hitam, Solihan akhirnya datang dan minta maaf telah lama menunggu.

"Karena baru selesai rapat dengan anak-anak," katanya.

Solihan merupakan Wakil Kepala Sekolah SMAN 2 Bekasi bidang kesiswaan dan sekaligus Ketua PPDB SMAN 2 Kota Bekasi. Sebelumnya, Solihan diinisialkan S oleh Firman Firanda Gultom, pemuda yang mendemo SMAN 2 Bekasi yang mengatasnamakan Aliansi Rakyat Peduli Pendidikan Nasional (Ardin). 

Saat dikonfirmasi terkait apa yang disampaikan Firman Firanda Gultom, bahwa dia yang dapat mengubah-ubah titik kordinat dan zonasi. Solihan hanya berkelakar sebagai respons apa yang dikatakan Firman sesuatu yang lucu.

Saat dikonfirmasi terkait apa yang disampaikan Firman Firanda Gultom, bahwa dia yang dapat merubah-rubah titik kordinat dan zonasi. Solihan hanya berkelakar sebagai respons apa yang dikatakan Firman suatu yang lucu.

"Jadi dia ini kelompok yang sama dengan tahun lalu dari Ardin surat demo tahun lalu masih ada. Dulu Kepala Sekolah SMAN 2 namamya Mardin, dia namanya kelompoknya Ardin. Saya pikir nama kelompoknya Dedi, karena plt Kepala Sekolahnya sekarang Dedi, ternyata bukan," kata sambil berkelakar. 

Solihan menceritakan, saat PPDB tahun lalu, dia kedatangan orang yang mengaku dari media. Awalnya wawancara akhirnya menitipkan berkas yang berisi nama-nama agar masuk sekolah SMAN 2 Bekasi.

"Tahun lalu memang betul ada dua yang mengaku dari media, LSM dan wartawan kasih berkas ke saya untuk agar nama anaknya masuk di SMAN 2 Bekasi," ujarnya. 

Solihan mengaku dia tak segan menolak berkas yang mereka sodorkan itu. Karena setelah dicek, berkas itu tak memenuhi standar operasional prosedur di PPDB. 

"Tapi bukan saya menolak, karena mamang tidak sesuai dengan SOP PPDB," katanya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement