Kamis 15 Jun 2023 14:33 WIB

Jokowi Ingin Kepemimpinan RI Seperti Tongkat Estafet, Bukan Meteran Pom Bensin

Jika pergantian kepemimpinan RI seperti pom bensin maka mulai dari nol lagi.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Andri Saubani
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat mengunjungi Pasar Menteng Pulo, Jakarta Selatan, Kamis (15/6/2023). Ia meninjau kondisi harga berbagai kebutuhan pokok di pasar tersebut.
Foto: Republika/Dessy Suciati Saputri
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat mengunjungi Pasar Menteng Pulo, Jakarta Selatan, Kamis (15/6/2023). Ia meninjau kondisi harga berbagai kebutuhan pokok di pasar tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pentingnya keberlanjutan dan kesinambungan program di setiap kepemimpinan baru. Sehingga program-program yang sudah dilaksanakan bisa dilanjutkan di kepemimpinan selanjutnya.

Hal ini disampaikan Jokowi saat memberikan sambutan di acara Peluncuran Indonesia Emas 2045 di Djakarta Theater, Kamis (15/6/2023).

Baca Juga

"Harus ada keberlanjutan dan kesinambungan harus, kalau sudah kepemimpinan 1, 2, 3 sudah sampai SMA, kepemimpinan SMA itu masuk universitas, jangan balik lagi ke SD lagi," ujar Jokowi.

Ia mengibaratkan kepemimpinan sebagai sebuah tongkat estafet. Bukan meteran pom bensin di SPBU yang setiap pengisian harus dimulai lagi dari nol.

 

"Kepemimpinan itu ibarat tongkat estafet, bukan meteran pom bensin. Kalau meteran pom bensin itu dimulai dari 0 ya, sama ditunjukan ini apa kita mau seperti itu? Ndak kan," jelasnya.

Ia pun tak ingin kepemimpinan di Indonesia harus kembali dari nol lagi dan tidak melanjutkan berbagai program pembangunan yang telah dijalankan. Sebab kepemimpinan yang tak melanjutkan program pembangunan justru akan menyebabkan Indonesia terlambat untuk mencapai kemajuan.

"Masak kayak meteran pom bensin, mestinya kalau sudah dari TK, SD, SMP kepemimpinan berikut masuk SMA, universitas nanti kepemimpinan berikut masuk S2, S3, tidak maju mundur, poco-poco," kata Presiden.

Dalam kesempatan ini, Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada sekitar 2030. Bonus demografi ini disebutnya hanya sekali terjadi dalam sebuah peradaban negara.

Karena itu, ia mengingatkan agar peluang bonus demografi bisa dimanfaatkan dan dikelola dengan baik.

"Maka kita harus bekerja keras memanfaatkan peluang ini. Kita harus punya perencanaan taktis. Visinya juga visi taktis. Punya strategi juga yang taktis karena kita berkompetisi dengan negara lain punya strategi besar tapi taktis," jelasnya.

Jokowi mengatakan, untuk mencapai Indonesia Emas 2045 tidak mudah. Namun, ia menekankan perlunya menjaga stabilitas bangsa agar negara bisa mencapai kemakmuran.

"Stabilitas bangsa ini harus terjaga. Tidak ada satu negara pun yang berhasil mencapai kemakmuran saat kondisinya tidak stabil tunjukan negara mana, saat negaranya terpecah nggak ada mencapai kemakmuran, yang berkonflik gak akan, kisruh terus gak akan mencapai kemakmuran, sekali lagi stabilitas," ujar Jokowi.

 

photo
Ke mana Jokowi berlabuh? - (Republika/berbagai sumber)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement