Selasa 17 Jan 2023 13:42 WIB

Pakar: 74 Persen Kematian di Dunia karena Penyakit tidak Menular

Kematian penyakit tak menular di Indonesia lebih besar dari penyakit menular

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Gita Amanda
Penyakit lever atau hati (ilustrasi). Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, angka kematian penyakit tidak menular di Indonesia dan dunia masih lebih besar dari penyakit menular. 
Foto: Picpedia.org
Penyakit lever atau hati (ilustrasi). Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, angka kematian penyakit tidak menular di Indonesia dan dunia masih lebih besar dari penyakit menular. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, angka kematian penyakit tidak menular di Indonesia dan dunia masih lebih besar dari penyakit menular. Sekitar 74 persen kematian di dunia terjadi akibat berbagai penyakit tidak menular.

"Dan ini ekuivalen dengan 41 juta orang meninggal di dunia setiap tahunnya akibat PTM. Dari semua kematian akibat PTM ini maka 77 persen (sekitar 31,4 juta) terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia tentunya," ujar Tjandra dalam keterangan, Selasa (17/1/2023).

Baca Juga

Tjandra mengungkapkan, setiap tahunnya di dunia ada 17 juta orang di bawah usia 70 tahun yang meninggal karena PTM, 86 persen diantaranya juga terjadi negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di sisi lain, 67 persen PTM mulai menyerang manusia pada usia dibawah 40 tahun.

"Ini tentu mengganggu produktifitas kerjanya serta pada skala besar juga produktifitas bangsa," tuturnya.

Adapun, empat jenis penyakit tidak menular yang banyak terjadi adalah penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung dan stroke), berbagai jenis kanker, penyakit paru/ respirasi kronik, misalnya penyakit paru obstruktif kronik-PPOK dan asma bronkial dan diabetes. Penyakit kardiovaskuler menyebabkan 17,9 juta kematian setahunnya di dunia, kanker 9,3 juta kematian, penyakit paru kronik berhubungan dengan 4,1 juta kematian serta diabetes menyebabkan 2 juta kematian setahun di dunia, termasuk juga penyakit ginjal yang berhubungan dengan diabetes.

Pada umumnya penyakit tidak menular bersifat kronik, sakitnya lama ber tahun-tahun, dan terjadi akibat kombinasi dari faktor genetik, fisiologik, aspek lingkungan dan juga perilaku manusia. Ada empat hal yang akan meningkatkan risiko kematian akibat penyakit menular.

"Empat hal tersebut adalah kebiasaan merokok, kurang aktifitas fisik, efek buruk konsumsi alkohol dan makanan yang tidak sehat," kata Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI tersebut.

Sehingga, ada empat prinsip dasar pengendalian penyakit tidak menular adalah yakni melakukan deteksi, skrining,  pengobatan dan pelayanan perawatan paliatif. Beruntungnya, dunia sudah memiliki peta jalan untuk pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular 2023-2030.

"Empat kegiatan tersebut adalah intervensi best-buys, yaitu kegiatan yang punya hasil besar (“high return”) untuk setiap upaya dan biaya yang dikeluarkan, misalnya program berhenti merokok," ujarnya.

Kemudian, penguatan sistem kesehatan secara keseluruhan. Dalam hal ini tentu maksudnya bukan hanya penguatan pelayanan spesialistik di rumah sakit, tetapi secara menyeluruh sejak pelayanan primer, dan juga kegiatan nyata program promotif preventif di lapangan.

Selanjutnya adalah mengendalikan faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular. Terakhir adalah dengan mengintegrasikan pengendalian penyakit tidak menular kedalam pelayanan kesehatan primer dan juga penerapan cakupan kesehatan universal.

"Artinya, semua lini kegiatan perlu dicakup pula dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kita. Selain empat kegiatan ini harus diikuti juga dengan komitmen yang kuat untuk mengurangi polusi udara dan meningkatlkan upaya kesehatan kesehatan jiwa dan kesejahteraan," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement