Selasa 27 Dec 2022 06:13 WIB

BNPB Catat 49 Kejadian Bencana Sepekan, Delapan Meninggal Dunia

Kejadian didominasi banjir yang mengakibatkan longsor, gelombang pasang dan abrasi.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ratna Puspita
Warga melihat bangunan rumah makan yang rusak akibat diterjang ombak dan banjir rob di Desa Eretan Kulon, Kandanghaur, Indramayu, Jawa Barat, Senin (26/12/2022). Banjir rob yang disertai gelombang tinggi menyebabkan beberapa bangunan di sekitar pantai tersebut mengalami kerusakan.
Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Warga melihat bangunan rumah makan yang rusak akibat diterjang ombak dan banjir rob di Desa Eretan Kulon, Kandanghaur, Indramayu, Jawa Barat, Senin (26/12/2022). Banjir rob yang disertai gelombang tinggi menyebabkan beberapa bangunan di sekitar pantai tersebut mengalami kerusakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 49 kejadian bencana selama sepekan dari 19-25 Desember 2022. Kejadian tersebut didominasi cuaca ekstrem dan banjir yang kemudian mengakibatkan tanah longsor, gelombang pasang dan abrasi.

"Kita lihat ada 49 kali kejadian bencana, banjir diantaranya 25 kali, cuaca ekstrem 33 kali. Cuaca ekstrem ini seperti puting beliung, angin kencang disertai hujan deras yang ternyata juga bisa berdampak cukup signifikan dan juga membawa tanah longsor dan gelombang pasang serta abrasi," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Disaster Briefing yang disiarkan daring Senin (26/12/2022).

Baca Juga

Muhari menjelaskan, kejadian bencana sepekan ini membuat banyak masyarakat mengungsi dan delapan di antaranya meninggal dunia. "Ini adalah grafik korban, mengungsi cukup banyak, sedangkan yang meninggal cukup signifikan di minggu ini, ada 8 orang meninggal dunia dari kejadian di 16 provinsi dan 14 kabupaten/kota," kata Muhari.

Muhari mengingatkan, sebagaimana prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait potensi cuaca ekstrem di beberapa provinsi, maka perlunya kesiapsiagaan sejumlah daerah, yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, wilayah di Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara. "Kita lihat ada beberapa kejadian banjir yang masih belum surut, sekarang sudah 26 Desember, ada kejadian dari tanggal 20 yang belum surut di Aceh Timur kemudian di Aceh Utara dan juga beberapa tempat di Jawa rata-rata sudah surut," katanya.

 

Untuk wilayah di Sulawesi Selatan terdapat dari yang terkepung banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yakni banjir di Wajo dan Maros yang belum surut serta menyebabkan dua jiwa meninggal dunia. "Ini menjadi perhatian kita karena sebagaimana disampaikan oleh BMKG bahwa sampai jelang nanti kita sudah melewati Natal sampai nanti Tahun Baru kita harus ekstra hati-hati karena potensi cuaca ekstrem masih ada," ujarnya.

Karena anomali cuaca di beberapa tempat, Muhari mengingatkan, pemerintah daerah di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, hingga Sulawesi Selatan mengantisipasi potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayahnya. Dia meminta perlu ada kesiapsiagaan masyarakat pemerintah daerah, aparat TNI Polri dan BPBD setempat.

"Sehingga ini di wilayah-wilayah yang dalam tanda kutip langganan banjir, nanti kita lihat di evaluasi bencana 1 tahun kita sudah meranking itu provinsi-provinsi dan kabupaten kota yang rawan banjir rawan longsor, ini benar harus ekstra hati-hati," ujarnya.

"Tidak terkecuali meskipun hujan sedang hingga lebat di Aceh, Lampung Sumatera Selatan, DKI, Kalimantan Timur Maluku, Papua, Aceh masih ada daerah yang belum kering sehingga dikhawatirkan kemudian daerah-daerah yang baru saja terkena banjir juga kembali basah," kata dia. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement