Senin 26 Dec 2022 08:29 WIB

Kenangan Ridwan Saidi: Saya Lebih Percaya Tukang Sulap, daripada Tukang Survei

Ridwan Saidi dinilai sebagai sosok yang tak gentar melontarkan kritik.

Ridwann Saidi: Sejarawan, Budayawan Betawi, da? Politisi Senior.
Foto: RIDWAN SAIDI
Ridwann Saidi: Sejarawan, Budayawan Betawi, da? Politisi Senior.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Budayawan Ridwan Saidi telah berpulang. Namun kritikan maupun pernyataannya yang ceplas-ceplos masih banyak dikenang.

Salah satunya yakni saat Ridwan Saidi lebih percaya tukang sulap dan daripada tukang survei. Hal itu dsampaikannya saat mengobrol bersama di saluran Youtube Refly Harun, setahun lalu.

Baca Juga

"Maaf Refly Harun, saya mendingan percaya sama tukang sulap, daripada survei," ujarnya saat itu.

Kritikan itu disampaikan Ridwan Saidi merespons Prabowo  yang disebut masih tinggi elektabilitasnya. Padahal, ketum Gerindra itu telah meninggalkan pemilihnya dan bergabung dengan Presiden Jokowi.

Ia menggambarkan bagaimana pendukung Prabowo berpanas-panasan dan berdesakan, bahkan harus keluar biaya sendiri. Sayang, kata ia, Prabowo belum minta maaf kepada pendukung.

Saat ini mayoritas lembaga survei menempatkan Prabowo di tiga besar bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan eks Gubernur DKI Anies Baswedan. Namun sejumlah lembaga survei menganggap suara Prabowo sudah mulai tergerus dan digeser oleh Anies. Sementara posisi Ganjar masih tinggi.

Secara terpisah Rektor Universitas ParamadinaDidik J Rachbini mengatakan semasa hidup budayawan Betawi Ridwan Saidi merupakan sosok budayawan, politisi, sejarawan dan aktivis yang kritis namun tetap santun dalam menyampaikan masukan kepada pemerintah.

"Orangnya egaliter, gaya bicaranya berintonasi kuat tetapi sangat humoris sambil mengejek apa dan siapa yang dikritiknya," kata Didik J Rachbini melalui keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Minggu.

Di jagat politik nasional, kata Didik, suara Ridwan Saidi semasa menjadi wakil rakyat di Senayan dikenal cukup nyaring. Kritik budayawan itu lebih lunak lewat status formalnya sebagai anggota DPR sehingga tidak pernah sedikit pun ada indikasi akan ditangkap oleh pemerintahan pada saat itu.

Waktu itu, kata Didik, kekuatan oposisi tidak begitu berarti di tengah kekuatan politik otoriter. Akan tetapi, kritik-kritik yang dilontarkan memberi pelajaran bahwa dalam demokrasi harus ada suara lain yang berbeda dan mungkin bisa menjadi alternatif.

"Simbol kritik yang menggema secara nasional itu ada pada figur Ridwan Saidi," kenang Didik.

Ia menilai Ridwan Saidi tidak pernah menyesal berada di luar lingkar kekuasaan karena sikap kritisnya. Budayawan Betawi tersebut adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lulusan Universitas Indonesia yang ditempa sejarah aktivisme sangat panjang.

Baca juga : Ridwan Saidi, Lolos dari Orde Baru, Tetap Lantang pada Penguasa

Hal itu bersamaan dengan perubahan besar di Indonesia. Mulai dari Orde Lama, kudeta Partai Komunis Indonesia (PKI), Orde Baru, masa transisi kejatuhan Orde Baru sampai masa demokrasi bebas saat ini.

Menurut Didik, akademisi kelahiran 2 September 1960 itu, hampir dua dekade pascareformasi, demokrasi mengalami kemunduran dan Ridwan Saidi bersuara di publik agar pemerintah tidak main tangkap terhadap lawan politiknya.

"Figur seperti Ridwan Saidi diperlukan untuk menjaga demokrasi agar tidak tergelincir mengarah ke otoriter," ucap dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement