Jumat 18 Nov 2022 11:04 WIB

Kasus Kematian di Kalideres, Pembunuhan atau Sekte?

Sejak awal kasus kematian di Kalideres sudah penuh keganjilan.

Kasus kematian di Kalideres masih menjadi misteri. Foto ilustrasi polisi membuka garis polisi pada TKP penemuan empat jasad di Perumahan Citra Grand Extension, Kalideres, Jakarta, Rabu (16/11/2022). Tim gabungan dari Inafis Polri, Puslabfor Bareskrim Polri, Dokter Forensik, Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Barat melakukan olah TKP untuk menyelidiki kasus penemuan empat jasad yang tewas mengenaskan. Republika/Putra M. Akbar
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Kasus kematian di Kalideres masih menjadi misteri. Foto ilustrasi polisi membuka garis polisi pada TKP penemuan empat jasad di Perumahan Citra Grand Extension, Kalideres, Jakarta, Rabu (16/11/2022). Tim gabungan dari Inafis Polri, Puslabfor Bareskrim Polri, Dokter Forensik, Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Barat melakukan olah TKP untuk menyelidiki kasus penemuan empat jasad yang tewas mengenaskan. Republika/Putra M. Akbar

Oleh : Gita Amanda, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Kasus empat jenazah di dalam rumah di Kompleks Citra Garden Satu Extension, Kalideres, Jakarta Barat, pada Kamis (10/11/2022) petang lalu masih menimbulkan tanda tanya besar. Desas desus terkait penyebab kematian di rumah tersebut terus bergulir, mulai dari dugaan pembunuhan hingga korban yang diduga ikut sekte tertentu.

Awalnya kasus ini menimbulkan iba di masyarakat, setelah kepolisian menyatakan keempat korban, yakni Rudyanto Gunawan (71 tahun), Margareta Gunawan (66 tahun), Budiyanto Gunawan (68 tahun) dan Dian (42 tahun), meninggal diduga akibat kelaparan. Sebab, pihak berwenang mendapati, tak adanya sisa makanan di lambung keempat korban meninggal.

Namun, sejak awal kasus ini sudah penuh keganjilan. Sebab, dari kesaksian sejumlah kerabat dan tetangga korban bukan berasal dari kalangan kurang mampu. Bahkan menurut adik Margaretha, dulu kakaknya sangat suka berbagi. Tetangga juga masih melihat keluarga tersebut memesan makanan sekitar beberapa pekan sebelum ditemukan tewas. Dari salah satu netizen yang berkomentar di kolom Youtube salah satu media juga mengatakan, ia sempat mengenal baik keluarga korban saat masih tinggal di daerah Gunung Sahari. Dan benar menurut keterangannya para korban orang yang murah hati dan senang berbagi.

Namun keempat korban memang diakui sangat tertutup dengan lingkungan tempat tinggalnya dalam beberapa tahun terakhir. Tak hanya dengan tetangga, dengan keluarga pun nampaknya mereka sangat berjarak. Ini terlihat dari keterangan Ria Astuti, adik mendiang Margaretha, yang mengaku terakhir berkomunikasi dengan kakaknya lima tahun lalu.

 

Sikap tertutup dari para korban inilah yang akhirnya menumbuhkan banyak spekulasi terkait kematian keempatnya. Teranyar, Ahli Kriminolog Andrianus Meliala berasumsi keempat korban menganut paham atau sekte Apokaliptik. Apokaliptik menurut Andrianus adalah penganut paham akhir dunia. Mereka punya ritual, salah satunya mengakhiri hidup dengan cara ekstrem.

Kesimpulan Andrianus bukan tanpa sebab, karena korban meninggal dalam keadaan tanpa makanan dan minuman sedikit pun di lambungnya. Terlebih di rumah juga ditemukan kapur barus, lilin merah dan bedak bayi. Seakan sudah disiapkan untuk menutupi bau dari jenazah yang ada di rumah tersebut.

Keempat korban baru ketahuan setelah korban terakhir, yakni Dian meninggal. Setelahnya barulah tetangga mencium bau tak sedap dari rumah tersebut. Berdasarkan keterangan pihak berwenang, Dian memang disebut menjadi korban terakhir yang meninggal dunia.

Tak hanya kriminolog, Youtuber Nessie Judge, yang kerap membahas berbagai teori konspirasi, juga mengangkat soal kasus di Kalideres ini. Dari salah satu teori yang disampaikan Nessie, bisa jadi keempat korban menjalankan ritual puasa ekstrem seperti dalam kepercayaan Jainisme. Penganut kepercayaan yang berkembang di India itu percaya melakukan puasa ekstrem tanpa makan dan minum hingga kematian menjemput.

Kenapa isu mengenai sekte atau aliran tertentu yang dianut keempatnya paling kencang terdengar. Sebab teori ini didukung juga pernyataan dari Ahli Kedokteran Forensik UI, dr Budi Sampurna. Menurutnya, secara naluri, manusia itu akan berupaya untuk mencari makan jika lapar. Jadi tidak mungkin ada manusia yang membiarkan diri mereka meninggal perlahan karena kelaparan.

Lagi pula meskipun bisa menahan lapar, tapi jarang ada manusia yang mampu menahan haus. Mereka tentu akan melakukan apapun untuk minum, bahkan jika harus meminum air keran, atau lebih ekstrem lagi air seni mereka.

Selain itu, beberapa komentar di media sosial juga menyatakan orang tak akan mati begitu saja hanya dengan tidak makan dalam beberapa pekan. Ini merujuk pada waktu kematian para korban, yang menurut tim forensik diperkirakan tiga pekan lalu. Namun lebih mengherankannya lagi, kondisi mayat sebagian korban sudah menunjukkan kematian yang lebih dari tiga pekan. Tiga dari empat korban ditemukan dalam kondisi tubuh telah mengering, tinggal tersisa tulang dan kulit.

Maka dari situ, ada pula yang berspekulasi keempat korban meminum racun tertentu hingga membuat tubuh mereka mengering dalam waktu cepat. Lebih parahnya lagi, ada juga netizen yang menduga ketiga korban dibiarkan mati kelaparan oleh Dian, dan akhirnya Dian pun mengakhiri hidupnya. Karena sudah tak sanggup mengurus tiga lansia.

Hingga detik ini, kematian keempat anggota keluarga di Kalideres masih menimbulkan tanda tanya besar. Tim dari kepolisian Jakarta Barat masih terus menyelidiki kasus kematian tersebut. Masyrakat, terlebih warganet, masih terus memperbincangkan berbagai kemungkinan kasus ini. Sementara pihak Kepolisian belum berani memberikan komentar terkait berbagai spekulasi atau teori-teori yang berkembang di lapangan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement