Senin 01 Aug 2022 13:47 WIB

Pemkab Lebak Siap Bantu Anak-Anak Suku Badui Luar yang Ingin Sekolah

Wabup Lebak berharap, anak-anak di pedalaman minimal mampu calistung.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Sejumlah anak suku Badui Luar mengikuti acara Deklarasi Indonesia membaca (ilustrasi).
Foto: Antara/Wahyu Putro A
Sejumlah anak suku Badui Luar mengikuti acara Deklarasi Indonesia membaca (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Provinsi Banten siap membantu anak-anak suku Badui Luar apabila ingin sekolah formal. Tujuannya agar warga di pedalaman bisa membaca menulis dan berhitung (calistung).

"Kita berharap anak-anak di pedalaman minimal mampu calistung," kata Wakil Bupati Lebak Ade Sumardi saat memperingati Hari Anak Nasional (HAN) yang dipusatkan di kawasan pemukiman masyarakat Badui Luar di Kampung Kadu Ketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Senin (1/8/2022).

Baca: Wagub Jatim: Pemahaman Literasi Digital di Lingkungan ASN Tingkatkan Produktivitas Kerja

Pemkab Lebak siap membantu anak-anak Badui Luar yang ingin sekolah formal. Bahkan, menurut Ade, pemkab akan membangun sarana pendidikan yang lokasinya berdekatan dengan pemukiman Badui. Anak-anak Badui Luar yang ingin sekolah formal, dapat melakukannya dengan tetap tidak melanggar adat istiadat setempat.

 

"Kami tetap menghargai dan menghormati keyakinan adat masyarakat Badui," kata Ade. Dia melanjutkan, saat ini, anak-anak Badui juga ada yang belajar pada pendidikan nonformal, yaitu pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).

Mereka pengelola PKBM memiliki teknik tersendiri untuk menampung anak-anak Badui agar mampu calistung. PKBM itu, kata Ade, lokasinya di sekitar pemukiman Badui agar mereka mau belajar. Meski begitu, pihaknya berharap ke depan anak-anak Badui Luar mau sekolah formal.

Saat ini, Ade menyebutkan, banyak putra-putri Badui yang sudah menjadi polisi, TNI, hingga aparatur sipil negara (ASN). "Kami berharap anak-anak di pedalaman menerima pendidikan, namun tetap tidak melanggar kaedah-kaedah adat mereka," kata Ade menjelaskan.

Sementara itu, Mae (30 tahun), warga Badui Luar mengaku, ia sempat belajar di PKBM Kencana Ungu Leuwidamar hingga Paket C atau setara SMA. Namun, ia akhirnya tidak melanjutkan sekolah formal karena dilarang aturan adat. "Kami kini mampu untuk calistung dan tidak buta huruf," katanya.

Jumadi (14), warga Badui Luar menyampaikan, pernah belajar di PKBM hingga sampai Paket B atau setara SMP. Namun, kini aktivitas belajarnya berhenti. "Kami tidak bisa sekolah formal, karena terhalang adat," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement