Selasa 19 Jul 2022 13:31 WIB

Menkes Prediksi Puncak Kasus Subvarian Omicron Terjadi Setelah Juli

Perubahan prediksi waktu puncak gelombang baru karena kedatangan jamaah haji.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Agus raharjo
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kanan) didampingi Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Rizka Andalucia (kedua kiri) mendengarkan paparan hasil penelitian berupa alat kesehatan dan diagnostik kit saat kunjungan kerja di Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/7/2022). Kunjungan kerja tersebut dalam rangka berdiskusi dengan Senat Akademik ITB untuk merumuskan kebijakan terkait penelitian dan inovasi ITB dalam pelayanan kesehatan berbasis sains dan teknologi.
Foto: ANTARA/M Agung Rajasa
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kanan) didampingi Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Rizka Andalucia (kedua kiri) mendengarkan paparan hasil penelitian berupa alat kesehatan dan diagnostik kit saat kunjungan kerja di Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/7/2022). Kunjungan kerja tersebut dalam rangka berdiskusi dengan Senat Akademik ITB untuk merumuskan kebijakan terkait penelitian dan inovasi ITB dalam pelayanan kesehatan berbasis sains dan teknologi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin memperkirakan puncak kasus subvarian omicron BA.4 dan BA.5 kemungkinan terjadi melewati akhir Juli 2022. Pasalnya, masih ada kepulangan jamaah haji yang kemungkinan bisa memicu peningkatan kasus Covid-19 cukup signifikan.

"Kita lihat dengan pulangnya jamaah haji, kita lihat profil, mungkin agak berubah (dari Juli) karena memang jamaah haji pada berdatangan dan ada beberapa juga yang kena," ujar Menkes di RS Dharmais Jakarta, Selasa (19/7/2022).

Baca Juga

Namun, ia belum bisa menyebutkan secara pasti apakah kasus harian Covid-19 di masa puncak akan melampaui angka 20 ribu seiring dengan temuan subvarian omicron BA.2.57. Hal ini dikarenakan pemerintah masih melihat pola penyebaran subvarian omicron baru tersebut, termasuk kemungkinan penularan serupa seperti BA.4 dan BA.5 yang diyakini memiliki karakteristik transmisi lebih cepat.

"Subvarian BA.2.75 untuk sementara kita masih keep dulu, karena BA.2.75 yang paling banyak di India ya, kita memang sudah ketemu tiga, satu orang di Bali dan dua orang di Jakarta. Tapi sampai sekarang kita belum kelihatan polanya berapa cepat dia naiknya dibandingkan dengan BA.4 dan BA.5," tutur Budi.

"Kalau sementara kita lihat sampai sekarang BA.4 dan BA.5 masih lebih tinggi kenaikannya," ujarnya.

Sebelumnya, Budi mengatakan, sudah ada 15 negara lain selain Indonesia yang terpapar varian yang berasal dari India ini. Saat ini pihaknya masih menelusuri lebih lanjut sumber utama varian tersebut, diduga telah terjadi transmisi lokal setelah masuk ke Indonesia.

"Jadi kemungkinan besar transmisi lokal, sedang kita cari sumbernya dari mana," kata Budi.

Adapun, kemampuan subvarian baru ini sama dengan subvarian BA.4 dan BA.5 yang bisa menembus vaksinasi dibandingkan varian lain sehingga orang bisa saja terpapar meski sudah divaksin. Namun, angka untuk masuk rumah sakit atau fatalitas tetap tinggi meski sudah ada proteksi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement