REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Provinsi Sumatra Barat mencatat ada 4.477 hewan ternak terkena wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Rinciannya, 4.174 kasus ditemukan pada sapi, 281 pada kerbau, dan 22 kasus pada kambing. Total, ada 723 kasus sembuh, potong bersyarat 27 kasus, kematian empat kasus. Artinya, kini masih menyisakan 3.723 kasus aktif.
“Hewan ternak yang terkena PMK di Sumbar ada 4 ribuan. Mati 4 ekor,” kata Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy, Jumat (24/6/2022).
Ribuan kasus PMK itu, ditemukan di 16 kabupaten dan kota yang tersebar di 105 kecamatan dan 264 kelurahan. Kabupaten Padang Pariaman, merupakan wilayah dengan temuan kasus terbanyak, yakni 771 kasus, diikuti Kabupaten Agam sebanyak 750 kasus, dan Kabupaten Tanah Datar 749 kasus.
Untuk kasus kesembuhan, Kabupaten Tanah Datar merupakan wilayah dengan tingkat kesembuhan tertinggi, yakni 134 kasus. Disusul Kota Pariaman 108 kasus dan Kabupaten Sijunjung 81 kasus kesembuhan.
Provinsi Sumatra Barat pada Jumat (24/6/2022), menerima 4.200 dosis vaksin PMK dari Kementerian Pertanian. Menurut Audy, jumlah tersebut sudah cukup mengkover vaksinasi sapi yang telah dikategorikan Pemprov Sumbar.
“Kita sudah punya target perioritas. Dan jumlah vaksin yang diterima ini cukup untuk mengkover sapi yang akan kita suntik,” kata Audy.
Audy menyebut, perioritas utama yang akan diberi vaksin adalah sapi perah. Menurut dia, sapi perah itu punya nilai ekonomi yang cukup tinggi. Perioritas selanjutnya, sapi-sapi bantuan, sapi indukan, sapi yang intensif atau dikandangkan, dan sapi ekstensif atau yang dilepas.
“Perlu diketahui masyarakat, PMK ini bukan penyakit yang menular ke manusia. Bukan zoonosis. Yang zoonosis itu seperti flu burung, bisa menular dari hewan ke manusia. Kalau PMK ini menularnya ke sesama hewan,” kata Audy.




