Senin 30 May 2022 23:03 WIB

Disdik Bantul Tegaskan Kasus Covid-19 Hasil Screening Bukan karena PTM

Pelajar yang terkonfirmasi positif terpapar Covid-19 dari luar lingkungan sekolah

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Christiyaningsih
Siswa menggunakan pakaian adat Jawa masuk sekolah di SD Winongo, Bantul, Yogyakarta, Rabu (21/4/2022). Bantul menyebut puluhan kasus positif Covid-19 yang didapat dari hasil screening terhadap pelajar bukan terpapar karena PTM. Ilustrasi.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Siswa menggunakan pakaian adat Jawa masuk sekolah di SD Winongo, Bantul, Yogyakarta, Rabu (21/4/2022). Bantul menyebut puluhan kasus positif Covid-19 yang didapat dari hasil screening terhadap pelajar bukan terpapar karena PTM. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bantul menyebut puluhan kasus positif Covid-19 yang didapat dari hasil screening terhadap pelajar bukan terpapar karena berlangsungnya pembelajaran tatap muka (PTM). Namun, pelajar yang terkonfirmasi positif tersebut terpapar Covid-19 dari luar lingkungan sekolah.

"Memang itu (terpapar) dari rumah bukan dari PTM, karena yang diambil sampelnya (saat) di sekolah," kata Kepala Disdik Kabupaten Bantul Isdarmoko kepada Republika saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (30/5/2022).

Baca Juga

Isdarmoko menjelaskan, kasus Covid-19 yang ditemukan dari screening tersebut tidak ada yang bergejala. Setidaknya, pada 28 dan 29 Mei kemarin ditemukan 30 kasus dari screening dan juga tracing lanjutan.

Dengan begitu, 30 kasus tersebut hanya menjalani isolasi mandiri di rumah. Untuk sekolah yang ditemukan kasus Covid-19 tidak dilakukan penyetopan kegiatan PTM.

"Saya mengikuti prosedur yang sudah ditentukan, kalau ini kan semuanya tidak bergejala, yang jelas isolasi mandiri di rumah. Kemudian kalau nanti sudah dites kedua, kalau sudah membaik ya sudah masuk seperti biasa," ujarnya.

Dari kasus yang sudah ditemukan tersebut petugas terus melakukan tracing. Termasuk dengan screening terhadap pelajar di sekolah yang melaksanakan PTM juga akan terus dilakukan.

"Screening ke depan masih lanjut dan kami mengikuti. Kalau itu sudah ditentukan kami siap, tidak akan kami menghalangi, kami mendukung. Harapan saya ada kebijakan yang baik, jangan kemudian memojokkan sekolah karena kasus dari hasil screening bukan karena PTM, tapi sampelnya diambil di sekolah," jelas Isdarmoko.

Kepala Bagian Biro Umum Humas dan Protokol Setda DIY Ditya Nanaryo Aji mengatakan di Kabupaten Bantul sudah dilakukan screening PTM sejak 23 Mei 2022 lalu. Screening tersebut merupakan deteksi dini penyebaran Covid-19 selama berlangsungnya PTM.

Pasalnya, PTM terus berjalan mengingat kondisi Covid-19 sudah terkendali. Melalui screening ini, dilakukan identifikasi potensi adanya klaster Covid-19 di lingkungan sekolah saat berlangsungnya PTM.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, sementara ini total pelajar yang sudah di-screening mencapai 384 pelajar. Sebanyak 354 pelajar di antaranya mendapatkan hasil negatif dan 30 pelajar mendapatkan hasil positif. "Positive rate Covid-19 sebesar delapan persen," ujar Ditya.

Screening ini dilakukan sekaligus sebagai tindak lanjut instruksi pemerintah pusat melalui surveilans oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY pada April lalu. Direncanakan, screening PTM akan dilakukan hingga 5 Juni 2022 nanti. "Kegiatan ini adalah menindaklanjuti instruksi pusat melalui surveilans Dinkes DIY pada bulan Ramadhan atau April kemarin agar dilaksanakan setelah Lebaran," ujarnya.

Ke depan, screening PTM ini akan terus dilakukan di sekolah-sekolah. Setidaknya, sasaran screening ini akan dilakukan terhadap 60 sekolah yang ada di Bantul dengan total sampel yang diuji yakni sebanyak 2.431 orang.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement