Selasa 24 May 2022 22:38 WIB

Kain Tenun Donggala Diajukan Sebagai Warisan Budaya tak Benda UNESCO

Sulteng menggenjot desainer lokal membuat berbagai produk mode dari tenun Donggala.

Perajin menyelesaikan pembuatan kain sutra dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Desa Towale, Banawa Tengah, Donggala, Sulawesi Tengah, Rabu (30/6/2021). Kain sutra khas Donggala itu dijual dengan harga berkisar antara Rp900 ribu hingga Rp1 juta per lembar di tingkat perajin dan sejak pendemi COVID-19 ini para perajin banyak mengandalkan penjualan secara online ke berbagai wilayah di Indonesia. Kain Tenun Donggala Diajukan Sebagai Warisan Budaya tak Benda UNESCO
Foto: ANTARA/Basri Marzuki
Perajin menyelesaikan pembuatan kain sutra dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Desa Towale, Banawa Tengah, Donggala, Sulawesi Tengah, Rabu (30/6/2021). Kain sutra khas Donggala itu dijual dengan harga berkisar antara Rp900 ribu hingga Rp1 juta per lembar di tingkat perajin dan sejak pendemi COVID-19 ini para perajin banyak mengandalkan penjualan secara online ke berbagai wilayah di Indonesia. Kain Tenun Donggala Diajukan Sebagai Warisan Budaya tak Benda UNESCO

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Pemerintah Sulawesi Tengah (Sulteng) mengajukan kain tenun Donggala sebagai warisan budaya tak benda ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa atau UNESCO.

"Khusus kain tenun Donggala ini sedang dalam proses untuk diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Jadi kita sekarang sedang menunggu untuk penetapannya sebagai salah satu warisan tak benda dari Sulteng," kata Kepala Dinas Pariwisata Sulteng Diah Agustiningsih, Selasa (24/5/2022).

Baca Juga

Ia mengemukakan agar kain tenun Donggala dapat secepatnya ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, Pemprov Sulteng terus menggenjot desainer lokal membuat berbagai produk mode yang berbahan baku kain tenun Donggala, baik berupa baju, celana, jaket, tas, topi hingga sepatu. Tujuannya mengangkat eksistensi kain tenun Donggala di kancah lokal, regional hingga internasional sehingga dikenal oleh semua kalangan.

"Tentunya sasaran utama dari produk mode berbahan baku kain tenun Donggala ini adalah kaum perempuan. Makanya desainer lokal di Sulteng kita dorong agar membuat produk mode seperti pakaian dan sepatu berbahan baku kain tenun Donggala yang mengikuti tren sekarang. Jangan sampai ketinggalan zaman," ujarnya.

Ia yakin dengan begitu, produk mode buatan desainer Sulteng berbahan baku kain tenun Donggala akan digemari oleh masyarakat utamanya anak-anak muda yang mengedepankan produk mode yang kekinian dan tidak ketinggalan zaman. Diah mengemukakan kain tenun Donggala merupakan warisan budaya bernilai estetik tinggi di Sulteng.

"Makanya kita dorong desainer di Sulteng agar membuat produk mode menggunakan bahan baku kain tenun Donggala. Mengajukan ke UNESCO agar diakui sebagai warisan budaya tak benda asal Sulteng, juga salah satu cara kita untuk melestarikan kain tenun Donggala," kata dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement