Ahad 01 May 2022 10:02 WIB

Dari 2.000-an Kasus Tinggal 300-an Kasus, Penularan Covid-19 Selama Ramadhan Melemah

Pemerintah berharap tidak ada lonjakan kasus usai Hari Raya Idul Fitri

Rep: Stevy Maradona/ Red: Stevy maradona
Sejumlah pasien Covid-19 melihat pemandangan di RSDC Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Senin (7/3/2022). Pemerintah menurunkan status PPKM menjadi level 2 untuk wilayah Jabodetabek dan Surabaya dikarenakan penurunan kasus konfirmasi harian dan juga rawat inap rumah sakit. Republika/Putra M. Akbar
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah pasien Covid-19 melihat pemandangan di RSDC Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Senin (7/3/2022). Pemerintah menurunkan status PPKM menjadi level 2 untuk wilayah Jabodetabek dan Surabaya dikarenakan penurunan kasus konfirmasi harian dan juga rawat inap rumah sakit. Republika/Putra M. Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jelang berakhirnya Ramadhan, kasus Covid-19 di Indonesia tercatat mengalami penurunan yang signifikan. Pada saat yang sama angka kesembuhan pasien terus meningkat. Pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit pun makin sedikit.  Benarkah status endemi Covid-19 bagi Indonesia sudah di depan mata?

Melihat kebelakang sejenak pada 2 April, awal Ramadhan, tren penurunan angka kasus Covid-19 sudah terjadi sebelumnya. Memasuki Ramadhan, pemerintah ancang ancang strategi menggenjot vaksin booster. Pada 2 April tercatat angka kasus harian Covid-19 masih di level 2.000 an kasus, yakni 2.300 kasus dan kasus aktif 98.171 kasus. 

Dua hari kemudian, Menkes Budi Gunadi Sadikin memberi sinyal bahwa Indonesia bersiap memasuki endemi. Namun dengan sejumlah syarat. Terutama rasio penularan yang harus di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan meningkatkan lagi cakupan vaksinasi. Pada 4 April, tren penurunan kasus harian Covid-19 makin terasa, dengan kasus harian di 1.600 an dan kasus aktif turun 8.000 kasus dalam dua hari. 

Pada 6 April, Presiden mengumumkan hari libur nasional terkait Ramadhan. Sembari terus mengingatkan bahwa pandemi belum berakhir , warga diingatkan terus waspada terhadap penularan Covid-19 dan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. 

 

Empat hari setelah pernyataan Menkes itu, angka kasus harian Covid-19 kian terlihat bisa mengarah di bawah 2.000 kasus per hari. Pada 7 April, Kemenkes mencatat angka kasus harian sudah bertengger di 2.089 kasus, namun angka kasus aktifnya turun cukup besar ke 78 ribu kasus. Ada penurunan sekitar 12 ribu kasus dalam waktu empat hari.

Pada saat ini sorotan juga mengarah pada rendahnya angka tes harian. Ketika itu angka tes harian berkisar di level 4.000 sampai 5.000an tes per hari. Epidemiolog tetap meminta pemerintah menggenjot testing harian untuk memperlihatkan gambaran kasus yang lebih lengkap. Namun pemerintah tampak tetap menjaga angka tes ini di kisaran itu. 

Pekan kedua April, dari 8 April sampai 13 April memperlihatkan tren penurunan kasus yang makin kencang. Dengan angka testing yang relatif stagnan, angka kasus harian terlihat bakal menembus level di bawah 1.000 kasus per hari. Ini terjadi pada 11 April. Bila demikian, maka ini sebuah pembalikan yang cukup pesat setelah lonjakan kasus akibat varian Omicron di Februari kemarin.

Pada 14 April, batas seribu kasus per hari itu akhirnya jebol. Catatan Kemenkes memperlihatkan angka kasus harian di 833 kasus dan angka kasus aktif turun ke 64 ribuan kasus, dengan jumlah warga yang dites di kisaran empat ribuan. Pemerintah memang terlihat makin optimistis dengan situasi ini. Apalagi setelah hasil survei serologi yang digelar Kemenkes sebelumnya memperlihatkan bahwa level kekebalan tubuh responden survei meningkat secara dramatis atas virus Covid-19 ini. 

Tiga hari kemudian, tren bahwa angka kasus harian makin kecil kian terlihat. Pada 17 April, kasus harian sudah makin mendekati angka 500 kasus, dengan 607 kasus harian dan kasus aktif mendekati 50 ribu kasus. Terkait kasus aktif ini patut dicatat sudah terjadi penurunan sekitar 40 ribu kasus aktif sejak awal Ramadhan. Ini seiring dengan angka pasien yang sembuh makin banyak saban harinya. 

Sehari sesudahnya, angka kasus harian benar-benar menyentuh 500 kasus, yakni 509 kasus per hari dan 50.969 kasus aktif. Namun angka testingnya melorot ke level hanya 2.000an orang per hari. Dari titik ini, tingkat kesembuhan pasien Covid-19 terus meningkat. Ini bisa dicermati dari angka kasus aktif yang turun cukup drastis dalam lima hari sesudahnya. Pada 22 April, angka kasus aktif tinggal 21 ribu kasus. Bila melihat dari awal Ramadhan, maka butuh 20 hari untuk menurunkan sekitar 70 ribu kasus aktif.

Memasuki pekan terakhir Ramadhan, tanda-tanda melemahnya infeksi Covid-19 di masyarakat kian terang. Pada 25 April angka kasus harian menyentuh 317 kasus dan kasus aktif di 13 ribuan. Ini adalah batas ke posisi setelahnya ketika sepekan kemudian angka kasus aktif melorot di bawah 10 ribuan. Pada Sabtu (30/4), tercatat angka kasus harian sudah di 7.800-an kasus. Bahkan sebelumnya, pasien yang dirawat di RS Darurat Covid-19 Kemayoran tinggal 19 orang per 29 April. 

Namun tren penurunan ini masih harus diuji sepekan setelah Lebaran. Sejak awal Ramadhan, Menkes, epidemiolog, dan Presiden mengkhawatirkan ada lonjakan kasus setelah Idul Fitri. Ini mengacu pada fakta bahwa vaksinasi pada lansia, terutama vaksinasi booster masih rendah, di level 20 persen nasional. Bilamana tidak ada lonjakan yang berarti dari kasus harian pasca-Ramadhan, maka bisa jadi seperti yang diinginkan pemerintah, kita akan segera memasuki tahap endemi Covid-19. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement