Sabtu 19 Feb 2022 01:45 WIB

Anies dan Emil, Bersatu dalam Nasib Elektabilitas Tinggi Tapi tak Punya Parpol

Anies dan Ridwan Kamil belakangan kerap

Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil dan Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan berbincang bersama eks wamenlu Dino Patti Djajal di Jakarta International Stadium (JIS).
Foto: Istimewa
Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil dan Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan berbincang bersama eks wamenlu Dino Patti Djajal di Jakarta International Stadium (JIS).

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Haura Hafizhah, Arie Lukihardianti, Nawir Arsyad Akbar

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan bersama Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil pada Kamis (17/2/2022) menjajal lapangan Jakarta International Stadium (JIS), Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Keduanya terlihat sangat akrab kala bermain bola di stadion baru yang sudah memasuki tahap finishing tersebut.

Baca Juga

Kedua gubernur tersebut saling mencoba mencetak gol lewat adu tendangan penalti. Ketika Kang Emil, sapaan M Ridwan Kamil menjadi penendang bola, ternyata ia gagal menyarangkan gol. Hal itu setelah Anies yang menjadi kiper berhasil menepis bola hingga melambung ke atas. Padahal, sebelumnya Kang Emil sudah ancang-ancang ketika ingin menyepak dari titik 12 pas.

Adapun ketika Anies menjadi algojo, ia sukses menyarangkan bola tanpa bisa dihalau Kang Emil yang menjaga penjaga gawang. Cuplikan video tersebut viral di media sosial.

Ternyata, keduanya tidak sendiri datang ke JIS. Ada pula eks wakil menteri luar negeri (wamenlu) Dino Patti Djalal turut hadir di stadion berkapasitas 82 ribu penonton tersebut. Ketiganya kompak memakai jas hingga terlihat rapi. Tidak hanya itu, persamaan Anies, Kang Emil, dan Dino adalah mereka semua lulusan kampus top Amerika Serikat.

Ini bukanlah kali pertama Anies dan Emil akrab dalam suatu acara informal. Menurut pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, Anies dan Emil adalah politikus senasib karena tidak punya partai dan ingin maju di Pilpres 2024.

"Mereka mesra itu karena senasib dan sepenanggungan. Dua-duanya ingin maju nyapres. Tapi tidak punya tiket dan tidak punya partai. Jadi, keduanya memang mesti mesra dan akrab," katanya saat dihubungi Republika, Kamis (17/2/2022).

Ujang menilai, kebersamaan Anies dan Emil secara politis tidak bisa dianggap sebelah mata. Alasannya, keduanya memiliki elektabilitas yang tinggi meski tidak memiliki partai. Namun, cita-cita keduanya menjadi capres pada 2024 pun bisa buyar jika tidak ada partai yang meminang keduanya.

"Keduanya kompak karena belum punya masalah sebesar yang sedang dihadapi oleh Ganjar saat ini. Calon-calon pemimpin atau elite itu mesti mesra dan kompak. Jangan cakar-cakaran terus.  Berkompetisi itu biasa dan bersahabat itu yang utama," kata Ujang.

Terkait elektabilitas Anies yang terus naik hingga menyusul Prabowo di beberapa survei, menurut Ujang, hal itu mungkin saja. Karena Anies terus bergerak, sedangkan Prabowo lebih banyak wait and see.

"Ya mungkin saja terjadi semua bisa naik dan turun sampai nanti saat Pilpres 2024," kata Ujang.

 

 

 

Sementara, pengamat politik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Karim Suryadi mengatakan, penunjukan co-chairman G20 kepada Anies dan Emil, menunjukkan kapasitas dan kompetensi keduanya menangani urusan kota. 

"Ini melebihi urusan popularitas, Anies sebagai kepala daerah Ibu Kota, dan RK yang berpengalaman dalam menata Kota Bandung, sekaligus memimpin provinsi yang berhimpitan dengan Jakarta diyakini memiliki pengalaman memadai dalam menyelesaikan masalah-masalah perkotaan," ujar Karim kepada wartawan, Jumat (18/2/2022).

Menurut Karim, Outreach Groups U20 Presidensi G20 bukan semata-mata rangkaian acara formal. Acara ini menunjukan kepercayaan pada kualitas kedua orang pemimpin tersebut.

"Apalagi latar belakang keilmuan RK sebagai artsitek dan perencanaan kota merupakan bidang yang sangat relevan untuk itu. Performance kedua pemimpin daerah ini juga didukung kemajuan yang diraih daerah masing-masing," katanya.

Saat ditanya kemungkinan kemesraan kedua pemimpin ini dilirik menjadi satu paket pencalonan pada Pilpres 2024, Karim melihat ada sejumlah peluang positif yang bisa dibaca dari berbagai sisi. Karim menilai, jika keduanya maju, tidak ada yang salah.

Alasannya, kapasitas, pengalaman, dan performance keduanya bagus. Sebagai gubernur, mereka menangani urusan yang dikelola presiden meski dengan lingkup dan skala yang berbeda. 

"Jadi, gubernur adalah tangga menuju kepresidenan yang paling masuk akal," kata Karim.

Persoalannya, menurut Karim keduanya dikenal bukan sebagai pimpinan atau kader partai politik.  Padahal, sampai saat ini tiket capres seakan-akan sudah seperti 'diborong' oleh ketua partai. 

"Hanya ini persoalannya. Apakah (pasangan ini) kartu mati? Tidak, bahkan jika pimpinan parpol jeli, jarak yang dibangun RK dengan parpol misalnya, bisa menjadi nilai tambah dalam pandangan publik," paparnya. 

Karim menekankan, penting bagi parpol melihat duet ini sebagai upaya menghadirkan calon pemimpin nasional yang berkualitas, sekaligus menggerek kepercayaan masyarakat terhadap parpol pengusung.

"Majunya orang seperti Anies dan RK, yang jelas punya kapasitas dan kapabilitas akan menambah kepercayaan publik terhadap parpol dan pemilu, sekaligus memunculkan harapan akan efikasi (kemanjuran)-nya," katanya.

Berdasarkan survei terbaru Saiful Muzani Research & Consulting (SMRC) nama Anies dan Emil menjadi di antara yang teratas dalam hal elektabilitas. Manager Program SMRC, Saidiman Ahmad menanyakan kepada responden jika pemilihan presiden digelar hari ini siapa sosok yang akan dipilih. Teratas adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan elektabilitas sebesar 18,4 persen.

"Prabowo 18,4 persen, Ridwan Kamil 17,8 persen, Ganjar 15,8 persen," ujar Saidiman dalam rilis daringnya, Selasa (15/2/2022).

Setelah empat nama tersebut, ada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno (5,1 persen), Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (2,1 persen), dan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto (1,3 persen. Selanjutnya, nama Ketua DPR Puan Maharani, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa memiliki elektabilitas di bawah 1 persen.

"Yang belum tahu/tidak menjawab 19 persen," ujar Saidiman.

Namun, jika simulasi survei tertutup dengan empat nama, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berada di peringkat pertama dengan elektabilitas sebesar 22,2 persen. Kedua ada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebesar 21,9 persen.

"Anies 19,3 persen, dan Ganjar 17,8 persen. Yang belum tahu atau tidak menjawab 18,8 persen," ujar Saidiman.

Jika Ridwan Kamil tak disertakan dalam simulasi tertutup tiga nama, elektabilitas Prabowo, Anies, dan Ganjar cenderung merata. "Simulasi tiga nama tanpa Ridwan Kamil, Prabowo mendapat dukungan 28,7 persen, Anies Baswedan 27 persen, dan Ganjar Pranowo 25,1 persen.. Yang tidak tahu/tidak menjawab 19,2 persen," Saidiman.

SMRC melakukan survei melalui telepon dengan total sampel 801 responden. Sampel dipilih secara acak dari populasi warga Jawa Barat yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah dan memiliki telepon.

Wawancara dilakukan pada 5-8 Februari 2022. Pembobotan data dilakukan sehingga profil demografi sampel proporsional terhadap populasi hasil sensus, dengan margin of error survei diperkirakan 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

 

 

photo
Tiga Pasang Capres-Cawapres Terkuat - (Infografis Republika.co.id)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement