Ahad 19 Dec 2021 08:58 WIB

Lumajang Harapkan Ada Sistem Peringatan Dini Bencana Gunung Semeru

Bupati Lumajang harap PVMBG menambah alat pengukur atau dokumentasi kebencanaan.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Bilal Ramadhan
Warga memfoto Gunung Semeru dari Desa Sumber Mujur, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (18/12/2021). Hasil pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) laporan per 6 jam tanggal 18 Desember pukul 00.00 - 06.00 WIB terjadi 5 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2-7 mm, dan lama gempa 30-85 detik sementara tingkat aktivitas Gunung Semeru pada level III (Siaga).
Foto: ANTARA/Budi Candra Setya
Warga memfoto Gunung Semeru dari Desa Sumber Mujur, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (18/12/2021). Hasil pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) laporan per 6 jam tanggal 18 Desember pukul 00.00 - 06.00 WIB terjadi 5 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2-7 mm, dan lama gempa 30-85 detik sementara tingkat aktivitas Gunung Semeru pada level III (Siaga).

REPUBLIKA.CO.ID, LUMAJANG -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang berharap ada sistem peringatan dini (Early Warning System) bencana di Gunung Semeru. Bupati Lumajang, Thoriqul Haq menilai keberadaan sistem peringatan dini itu penting disediakan di Gunung Semeru.

Dengan sistem tersebut, pemerintah daerah (Pemda) bisa mengetahui akan terjadinya bencana dengan cepat. Kemudian dapat memberikan informasi atau peringatan dini pada masyarakat atas tingkatan bencana yang akan terjadi serta tindakan selanjutnya.

Baca Juga

Cak Thoriq, begitu dia kerap disapa, berharap Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bisa menambah alat yang bisa mengukur atau dokumentasi kemungkinan bencana.

"Alat yang bisa melihat dengan volume, kapasitas, kekuatan dari guguran awan panas yang menyebabkan terjadinya bencana yang harus kita antisipasi," kata Cak Thoriq.

Selanjutnya, dia mendorong agar pihak yang menangani kebencanaan memiliki standar informasi yang lebih akurat untuk peringatan dini bencana. Dengan demikian, Pemda juga bisa memberitahukan kepada masyarakat akan terjadinya bencana. Selanjutnya, dapat mengantisipasi dan meminimalisasi adanya korban bencana ke depannya.

Sementara, Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Bambang Surya Putra menerangkan, rakor tersebut bertujuan untuk memberikan penyelesaian terkait penanggulangan bencana rrupsi Gunung Semeru sejak dini. Hal ini diharapkan pemerintah dapat memberikan penanganan cepat kepada masyarakat yang masuk di wilayah bencana.

Untuk diketahui, status Gunung Semeru meningkat dari waspada menjadi siaga per Jumat (17/12). Informasi ini dipertegas melalui laporan yang tertera pada situs magma.vsi.esdm.go.id dari pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, Jumat (17/12).

Pembuat laporan, Yadi Yuliandi mengatakan, gunung yang memiliki ketinggian 3676 mdpl ini terlihat jelas berdasarkan periode pengamatan tersebut. Sementara itu, Gunung Semeru dilaporkan mengalami 13 kali gempa guguran dengan amplitudo 1-15 mm. "Dan lama gempa 22 hingga 140 detik," kata Yadi.

Di samping itu, Gunung Semeru juga tercatat mengalami dua kali kali gempa embusan dengan amplitudo 4 hingga 9 mm. Gempa ini berlangsung sekitar 60 hingga 63 detik. Selanjutnya, juga dilaporkan mengalami satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 18 mm, S-P 52 detik dan lama gempa 135 detik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement