Kamis 21 Jan 2021 16:00 WIB

MK Putus Perkara Perselisihan Pilkada Paling Lama 24 Maret

MK akan memutus seluruh perkara perselisihan hasil pilkada paling lama 24 Maret.

Rep: Ronggo Astungkoro  / Red: Bayu Hermawan
Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman membacakan putusan perkara di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin (26/10/2020). Majelis Hakim dalam amar putusannya menolak seluruh gugatan permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.
Foto:

Sebelumnya, sebanyak empat permohonan perselisihan hasil pemilihan kepala daerah tidak diregistrasi karena dicabut dan terdaftar dua kali. Permohonan yang dicabut kembali oleh pemohonnya berasal Kota Magelang karena ada dua akta pengajuan permohonan pemohon (AP3).

Kepala Bagian Humas dan Kerja Sama Dalam Negeri MK, Fajar Laksono, melalui pesan singkat pada Selasa (19/1) lalu menerangkan, permohonan perselisihan hasil pemilihan kepala daerah yang terdaftar secara sistem dua kali adalah sengketa pemilihan Kabupaten Pegunungan Bintan, Kepulauan Aru, dan Mamberamo Raya.

Dengan begitu, MK meregistrasi sebanyak 132 perkara sengketa hasil Pilkada 2020. Perkara terdiri dari sengketa pemilihan gubernur sebanyak tujuh perkara, bupati 112 perkara dan wali kota 13 perkara.

Sementara itu, sidang pada tanggal 26-29 Januari 2021 beragendakan pemeriksaan pendahuluan untuk mengecek kelengkapan dan kejelasan materi permohonan serta pengesahan alat bukti. Pada sidang pendahuluan itu, pihak terkait pun akan ditetapkan oleh majelis hakim.

Selanjutnya, pada tanggal 1-11 Februari 2021 MK  mengagendakan untuk melakukan sidang pemeriksaan dan rapat permusyawaratan hakim (RPH). Sidang pengucapan putusan sela akan dilakukan pada tanggal 15-16 Februari 2021 dan sidang putusan pada 19-24 Februari 2021 disertai penyerahan salinan putusan kepada pemohon, KPU, pihak terkait, dan Bawaslu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement