Sabtu 10 Oct 2020 00:38 WIB

Hasto: Indonesia Butuh Produktif dan Inovatif

Hasto mengulas sejumlah negara maju hari ini.

Sekjen DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menjadi pembicara dalam acara diskusi daring yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia bertajuk
Foto: istimewa
Sekjen DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menjadi pembicara dalam acara diskusi daring yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia bertajuk

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekjen DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menjadi pembicara dalam acara diskusi daring yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia bertajuk 'Sudah Mapan Kok Sekolah Lagi', Jumat (9/10) malam. 

Hasto dalam paparannya menjelaskan alasan mengapa ia tetap mengambil studi doktoral di Universitas Pertahanan. Padahal, ia dianggap publik sudah mapan, Sekjen Partai pemenang Pemilu dan bahkan sudah menggapai gelar Master Manajemen. 

Baca Juga

Dalam forum itu, Hasto mengatakan, ia tak pernah merasa mapan, sehingga perlu terus menerus mendapatkan ilmu pengetahuan.

"Saya tidak pernah merasa mapan status quo, sehingga hidup ini terus proses belajar menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Hasto dalam keterangan persnya.

"Demi mendorong sebuah kesadaran betapa Indonesia lebih butuh menjadi produktif dan inovatif dibanding berkonflik sendiri di dalam negeri," imbuh Hasto.

Hasto mengulas sejumlah negara maju hari ini. Dasar mereka adalah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Indonesia, menurut Hasto, harus melakukan hal yang sama.

"Kalau kita lihat mengapa Amerika, Eropa Barat selalu maju karena dia menguasai ilmu dasar dan tekonologi, matematika fisika kimia, maka kita harus kuasai itu," papar Hasto. 

Proklamator bangsa Bung Karno dikutip Hasto, mengatakan agama harus bersekutu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu menurut Hasto tepat menjadi acuan bangsa Indonesia. 

"Kita negara yang begitu kaya raya negara yang punya tugas sejarah menjadi pemimpin diantara bangsa bangsa, pemimpin negarawan yang luar biasa dan itu semua melalui ide. Jadi merubah dunia, kata Bung Karno itu, melalui tiga cara. Dengan senjata, dengan modal, atau kapital dengan ide. Ide over opinion," jelasnya.

Kepada para insinyur, Hasto mengatakan dalam pekerjaan apapun, harus membuat sejarah. Menjadi yang terbaik, namun bukan dengan semangat individual, tetapi dengan semangat kebersamaan. 

Ia lalu bercerita bagaimana Bung Karno memotivasi para Insinyur agar lebih inovatif dalam bekerja. Hal itu menurut Hasto bisa dilihat dari sejarah pembangunan waduh jatiluhur dan pembangunan kawasan Semanggi.

"Ketika merancang Semanggi, Bung Karno sampai marah pada insinyur kita, kalau Bung Karno marah kemudian mengancam, saya akan datangkan orang asing kalau kamu enggak bisa. Kita merdeka melawan Belanda saja bisa, masak kamu bangun jembatan saya enggak bisa," tutur Hasto.

"Diancam dengan mendatangkan orang asing kemudian insinyur kita bekerja keras untuk menemukan sebuah cara untuk bisa punya kemampuan untuk penguasaan tekonologi itu," imbuh Hasto lagi. 

Lebih lanjut, Hasto berpesan kepada seluruh Insinyur Indonesia agar menjalankan kampanye ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemajuan bangsa. Selain itu, Hasto berpesan, para insinyur penting melakukan pemetaan potensi agar mendorong Indonesia berdikari sesuai semangat pancasila.

"Baik pangan, kita bisa mengolah ketela kita, produksi dari CVO, energy, infrastruktur, pertahanan. Pancasila adalah sintesa peradaban dunia itu digagas secara khusus melalui perenungan yang mendalam bagi para pendiri bangsa," tandas Hasto.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement