Ahad 26 Jul 2020 16:01 WIB

Yodi Prabowo Belum Sempat Ketahui Hasil Tes HIV-nya

Diduga alasan Yodi periksa HIV sangat pengaruhi dirinya sehingga lakukan bunuh diri.

Rep: Flori Sidebang/ Red: Indira Rezkisari
Editor Metro TV Yodi Prabowo ditemukan meninggal di tepi jalan tol Lingkar Luar Jakarta, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (10/7) sore.
Foto: Wikipedia
Editor Metro TV Yodi Prabowo ditemukan meninggal di tepi jalan tol Lingkar Luar Jakarta, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (10/7) sore.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat menjelaskan alasan editor Metro TV, Yodi Prabowo melakukan pemeriksaan tes HIV sebelum meninggal. Polisi menyebut Yodi memiliki keluhan penyakit yang membutuhkan tes HIV.

Yodi diketahui melakukan tes tersebut usai menemui dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. "Ada keluhan, makanya dia berobat. (Apakah keluhannya mengarah ke ciri-ciri HIV) saya nggak ngerti," kata Tubagus saat dihubungi, Ahad (26/7).

Baca Juga

Tubagus menjelaskan, pihaknya tidak akan mengungkapkan terkait hasil tes tersebut. Sebab, kata dia, itu merupakan ranah pribadi Yodi.

"Hal lain yang sifatnya pribadi saya nggak boleh ungkapkan, enggak etis," ujar Tubagus.

Terungkapnya tes HIV Yodi bermula dari hasil penyelidikan transaksi rekening milik Yodi. Hasilnya, ada satu transaksi yang cukup menonjol, yakni pembayaran biaya berobat di RSCM.

Tes HIV itu dilakukan atas kemauan Yodi sendiri. "Atas kehendaknya sendiri, kemudian lakukan pengecekan positif atau tidaknya HIV," jelas Tubagus.

Namun, Yodi belum sempat mengetahui hasil pemeriksaan tersebut. Sebab, ia lebih dulu mengakhiri hidupnya dengan pisau dapur yang ia beli sendiri.

Polisi menduga, alasan pemeriksaan itu sangat memengaruhi kondisi psikologi Yodi. Sehingga, korban nekat melakukan bunuh diri. Selain itu, hasil penyelidikan juga mengungkap bahwa Yodi mengonsumsi amfetamin sebelum bunuh diri. Pengaruh depresi dan narkotika diduga menjadi penyebab Yodi nekat mengakhiri hidupnya.

"Sangat terkait dengan kemungkinan dia bunuh diri," imbuh Tubagus.

Dari hasil penyelidikan saksi ahli, para saksi, olah tempat kejadian perkara (TKP), bukti pendukung dan laboratorium forensik, polisi mengatakan Yodi bunuh diri dengan menikam dada serta lehernya. Sebanyak empat kali luka tusukan terdapat pada dada korban.

Tiga luka di antaranya merupakan tusukan dangkal sekitar 2-3 sentimeter. Sedangkan tusukan keempat diketahui cukup dalam hingga menembus paru-paru korban. Kemudian polisi juga menemukan luka akibat senjata tajam di leher korban.

Kehidupan adalah anugerah berharga dari Allah SWT. Segera ajak bicara kerabat, teman-teman, ustaz/ustazah, pendeta, atau pemuka agama lainnya untuk menenangkan diri jika Anda memiliki gagasan bunuh diri. Konsultasi kesehatan jiwa bisa diakses di hotline 119 extension 8 yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes juga bisa dihubungi pada 021-500-454. BPJS Kesehatan juga membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement