Rabu 10 Jun 2020 13:55 WIB

Penggunaan Masker Secara Luas Cegah Gelombang Kedua Covid-19

WHO mensyaratkan penggunaan masker tiga lapis untuk cegah Covid-19.

Seorang pekerja mengenakan masker dan pelindung wajah menyiram tanaman di kawasan Senayan Jakarta, Selasa (9/6/2020). Penggunaan masker secara luas di dunia, termasuk kebijakan seperti PSBB bisa membantu mencegah terjadinya gelombang kedua Covid-19.
Foto: ANTARA/WAHYU PUTRO A
Seorang pekerja mengenakan masker dan pelindung wajah menyiram tanaman di kawasan Senayan Jakarta, Selasa (9/6/2020). Penggunaan masker secara luas di dunia, termasuk kebijakan seperti PSBB bisa membantu mencegah terjadinya gelombang kedua Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Santi Sopia, Antara

Penggunaan masker di era pandemi telah dijadikan kewajiban dalam tatanan kehidupan new normal. Studi terbaru di Inggris bahkan menyebut penggunaan masker secara luas dapat mengendalikan penyebaran virus corona jenis baru dan mencegah kemunculan gelombang kedua Covid-19 bila dikombinasikan dengan penerapan karantina wilayah.

Baca Juga

Penelitian, yang dipimpin oleh para ilmuwan di Universitas Cambridge dan Greenwich di Inggris, menunjukkan bahwa karantina wilayah saja tidak akan menghentikan munculnya kasus Covid-19 yang baru. Bahkan, penggunaan masker buatan sendiri dapat mengurangi tingkat penularan secara signifikan jika cukup banyak orang memakainya di tempat umum, menurut penelitian tersebut.

"Analisis kami mendukung penggunaan masker secara luas oleh publik," ujar Richard Stutt, yang ikut memimpin penelitian di Cambridge.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan luas masker, yang dikombinasikan dengan pembatasan jarak fisik dan beberapa tindakan karantina wilayah, bisa menjadi cara yang dapat diterima untuk mengelola pandemi dan membuka kembali kegiatan ekonomi sebelum pengembangan dan ketersediaan vaksin yang efektif terhadap Covid-19. Temuan itu diterbitkan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the Royal Society A.

Organisasi Kesehatan Dunia memperbarui pedomannya pada Jumat (5/6) untuk merekomendasikan bahwa pemerintah harus meminta semua orang untuk memakai masker di tempat umum demi mengurangi penyebaran penyakit. Dalam studi tersebut, para peneliti mengaitkan dinamika penyebaran antara orang-orang dengan model tingkat populasi untuk menilai efek pada tingkat reproduksi penyakit, atau nilai R, dari berbagai skenario penggunaan masker yang dikombinasikan dengan periode penguncian.

Nilai R mengukur jumlah rata-rata orang yang akan ditularkan oleh satu orang yang terinfeksi penyakit. Nilai R di atas 1 dapat menyebabkan pertumbuhan eksponensial.

Studi itu menemukan bahwa jika orang memakai masker setiap kali mereka berada di depan umum, langkah itu dua kali lebih efektif dalam mengurangi nilai R daripada jika masker hanya dipakai setelah gejala muncul.

Dalam semua skenario yang diteliti, penggunaan masker secara rutin oleh 50 persen atau lebih dari populasi telah mengurangi penyebaran Covid-19 menjadi R kurang dari 1,0, meratakan gelombang penyakit pada masa depan dan memungkinkan penguncian tidak diberlakukan terlalu ketat. "Kita tidak terlalu rugi dalam penggunaan masker secara luas, tetapi keuntungannya bisa signifikan," kata Renata Retkute, yang ikut memimpin penelitian ini, dilansir dari Reuters.

Menurut WHO, siapapun bisa membuat sendiri maskernya. WHO mensyaratkan penggunaan masker harus tiga lapis dengan penggunaan bahan dalam yang menyerap seperti katun atau campuran katun, lapisan kedua bisa terbuat dari bahan non-rajutan seperti polypropylene atau katun untuk meningkatkan kemampuan memfilter droplet dan lapisan terakhir bisa terbuat bahan seperti polypropylene, polyester, atau campuran bahan tersebut. Bahan yang sifatnya mudah merenggang atau berpori-pori disarankan WHO untuk dihindari.

Aturan berikutnya adalah masker tidak boleh digunakan bersama-sama. Masker harus diganti jika basah. Masker sebaiknya dicuci dengan air bersuhu tinggi atau direbus selama satu menit.

Dokter Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK mengatakan penggunaan masker adalah wajib dalam protokol kesehatan. Prinsip penggunaan masker adalah menghindari  maupun menularkan droplet.

"Kita biasa pakai masker kain apa saja tapi yang disarankan tiga lapis, kita bisa menambahkan lapisan filter nya kita bisa dibeli online juga," kata Pande.

Masker kain dan atau masker bedah sebenarnya hanya bisa digunakan 3-4 jam. Karenanya penting untuk selalu membawa cadangan.

Bagaimana dengan face shield? Penggunaannya  bisa dilakukan saat dalam kerumunan orang dalam radius dekat. Alat pelindung wajah itu mencegah kontak tangan ke muka dan juga lontaran droplet. Face shield juga harus selalu dibersihkan.

Lebih lanjut dr. Pande menjelaskan, selain wajib masker, penting juga beradaptasi dengab protokol kesehatan lainnya. Salah satunya menjaga kebersihan alas kaki.  

"Alas kaki membawa droplet terbawa ke lingkungan kita, kita mau kerja dan pulang yang harus dibersihkan alas kaki, bisa dibersihkan disinfektan merek apa saja," kata Pande.

Pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta bukan berarti masyarakat sudah boleh bebas beraktivitas. Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Kadisnakertransgi) DKI Jakarta meminta karyawan di Jakarta langsung pulang dan tidak berkumpul.

"Kalau jam kerja sudah selesai, karyawan lebih baik langsung pulang, jangan nongkrong dulu. Sebab, pembatasan karyawan serta waktu keberangkatan dan kepulangannya sudah kita atur untuk menghindari penumpukan (di tempat kerja)," kata Kepala Disnakertransgi DKI Jakarta Andri Yansah.

Menurut dia, regulasi penyesuaian sistem kerja dalam masa PSBB transisi di DKI telah diatur sedemikian rupa. Khususnya, pengaturan jam kerja dilakukan dengan sistem sifdemi menghindari penumpukan.

Andri mengkhawatirkan banyaknya karyawan yang pulang kerja lebih awal akan mengulur waktu kepulangan mereka karena merasa memiliki banyak waktu luang. Dari penguluran waktu pulang kerja, Andri mengkhawatirkan adanya penumpukan di transportasi umum dan tempat lainnya yang meningkatkan potensi penularan Covid-19. Sementara, penanggung jawab di tempat kerja masing-masing tak bisa mengawasi jika karyawannya sudah berada di luar kantor.

"Yang harusnya dia pulang ke rumah, malah nongkrong, itu yang bahaya. Dia bisa saja kena Covid-19 karena banyak orang nongkrong. Itu lebih sulit mengontrol di tempat orang berkumpul tetapi tidak kenal satu sama lain," jelas Andri.

Ia menegaskan, jika sudah ada pelonggaran dan diberi penambahan sektor yang dikecualikan, maka hendaknya lebih baik fokus kerja saja dulu. Agenda berkumpul bersama diimbau dihindari.

photo
Kacamata kerap berembun saat orang memakai masker. - (Republika)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement