Rabu 04 Mar 2020 07:27 WIB

Soal Virus Corona, Polri Siap Bantu Kemenkes

Polri siap memberikan bantuan keamanan terkait virus corona.

Rep: Haura Hafizah/ Red: Muhammad Hafil
Soal Virus Corona, Polri Siap Bantu Kemenkes. Foto ilustrasi: Infografis Dua Warga Depok Positif Corona
Foto: istimewa
Soal Virus Corona, Polri Siap Bantu Kemenkes. Foto ilustrasi: Infografis Dua Warga Depok Positif Corona

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Polri, Kombes Asep Adisaputra mengaku akan membantu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam hal pengamanan. Namun, yang bertanggung jawab langsung dalam hal observasi virus tersebut adalah pihak Kemenkes.

"Jika Kemenkes meminta bantuan maka Polri pasti akan membantu dalam hal keamanan. Seperti yang dilakukan oleh TNI dan Polri saat melakukan observasi WNI yang pulang dari China ke Natuna. Namun, yang bertanggung jawab langsung dalam hal observasi adalah pihak Kemenkes," katanya di Gedung Bareskrim Polri, kemarin.

Baca Juga

Asep menjelaskan seluruh stakeholder bekerja sama untuk menangani virus corona yaitu salah satunya dengan menangani WNI yang positif terkena virus corona. Lalu, ia menambahkan nantinya akan ada sebuah rumusan tindakan dari jajaran Kemenkes terkait masyarakat yang berhubungan Warga Negara Asing (WNA).

"Ada tindakan penelusuran seperti kapan WNA tersebut datang ke Indonesia? melalui jalur penerbangan nasional apa?. Pada kasus ini leading sektornya adalah jajaran Kemenkes hingga pelaksanaan bawah yaitu rumah sakit. Secara medis akan melakukan pendalaman kepada siapa saja korban berinteraksi hingga akhirnya terjangkit," kata dia.

Sebelumnya diketahui, Kementerian Kesehatan menjelaskan alur menularan dua Warga Negara Indonesia (WNI) terjangkit virus corona jenis baru (COVID-19). Dua WNI itu, yakni seorang ibu berusia 64 tahun dan anaknya berusia 31 tahun di Depok, Jawa Barat.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto di Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jakarta menjelaskan kronologinya berawal pada 14 Februari 2020, mereka punya komunitas yang secara periodik punya kegiatan dansa. Menurut Yurianto, wanita yang berdansa tersebut adalah sang anak yang berdansa di Paloma Menteng, Jakarta Pusat.

Dalam kegiatan dansa itu, warga Depok berpasangan dansa dengan warga Jepang yang tinggal di Malaysia. "Setelah selesai dansa bersama komunitasnya kurang lebih 50 orang dan itu multinasional, bukan hanya Jepang maka tanggal 16 Februari si wanita mengeluh batuk dan agak panas badannya, kemudian berobat ke dokter dan oleh dokter berobat tidak perlu dirawat," kata dia, Senin (2/3).

"Setelah pulang dari dokter tanggal 16-27 Februari, dia merasa badan tidak enak secara intens. Ia dirawat, dalam artian dilayani lebih dekat oleh ibunya yang serumah. Di rumah ada ibunya, yang bersangkutan, kakaknya dan pembantu," tambah Yuri.

Namun karena pada 27 Februari 2020, ia semakin merasa tidak enak badan dan ibunya pun mulai ketularan sakit. "Kebetulan tanggal 20 ibunya 'ketularan' sakit dengan keluhan batuk dan demam, maka dua-duanya memutuskan minta dirawat di RS, maka tanggal 27 Februari ibu dan anak dirawat di RS," ungkap Yuri.

Pada 28 Februari, WN Jepang yang tinggal di Malaysia itu lalu menelepon dan mengatakan bahwa ia sakit di Malaysia dan dirawat positif COVID-19. "Atas berita ini, si anak dan ibu melapor ke RS, bahasa sederhananya, 'apa saya tidak ketularan?' maka pada tanggal 1 Maret, dua-duanya dirujuk RS Sulianti Saroso, hari itu kita periksa dan hari itu confirm positif, kondisi baik-baik saja, tidak menggunakan oksigen dan sudah tidak panas meski di dalam ruang isolasi," tambah Yuri.

Menurut Yuri, saat ditemui di RS Sulianti Saroso tersebut keduanya beraktivitas normal. "Sempat komunikasi dengan interkom, dan saya tidak kontak langsung karena di ruang isolasi, satu membaca majalah tidak gunakan selang oksigen satu lagi main handphone, kami baca list pemeriksaan, tidak demam hanya kadang batuk," ungkap Yuri.

Kemenkes selanjutnya mengecek alur kelompok dansa dari klub dansa tersebut. "Kami tracking kelompok dansanya sedang kita cari tapi karena nationality-nya banyak, warga beberapa negara sedang kita tracking dengan pemeriksaan lebih lanjut," tegas Yuri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement