Kamis 26 Dec 2019 14:53 WIB

Kenaikan Penumpang di Terminal Indihiang tak Signifikan

Kemenhub akan merevitalisasi sejumlah terminal di Indonesia, termasuk Indihiang.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Friska Yolanda
Calon penumpang menunggu kedatangan Bus Antar Kota Provinsi Antar Provinsi (AKP) di Terminal Tipe A Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (1/6).
Foto: Antara/Adeng Bustomi
Calon penumpang menunggu kedatangan Bus Antar Kota Provinsi Antar Provinsi (AKP) di Terminal Tipe A Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (1/6).

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Selama musim libur Natal dan Tahun Baru, tak terjadi peningkatan penumpang angkutan darat yang cukup signifikan di Terminal Indihiang, Kota Tasikmalaya. Padahal, terminal tipe A itu merupakan yang terbesar di wilayah Tasikmalaya, yang melayani perjalanan bus ke berbagai jurusan.

Kepala Terminal Indihiang Jenny M Wirandani mengatakan, sejak awal Desember 2019 penumpang yang datang maupun berangkat melalui terminal tipe A itu hanya berkisar 2.000 hingga 4.000 orang per harinya. Rata-rata, jumlah penumpang yang berangkat hanya sepertiga jumlah penumpang yang datang.

Baca Juga

"Musim libur ini hanya 10 persen meningkat, baik yang berangkat maupun datang. Jadi tak terlalu terlihat," kata dia, Kamis (26/12).

Berdasarkan data yang diterima Republika.co.id, sejak awal Desember 2019 puncak kedatangan bus ke Terminal Indihang terjadi pada 15 Desember, di mana terdapat 431 unit bus yang masuk membawa 3.199 orang penumpang. Sementara puncak keberangkatan terjadi 19 Desember, dengan 80 bus keluar yang membawa 928 orang penumpang keluar dari Terminal Indihiang. 

Angka itu tak banyak berbeda dengan rata-rata jumlah penumpang per harinya. Misalnya, pada 1 Desember tercatat ada 352 kendaraan masuk membawa 2.438 orang penumpang. Sementara 73 kendaraan keluar membawa 667 penumpang.

Jenny mengatakan, sepinya tingkat penumpang di Terminal disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya tak ada angkutan kota (angkot) yang mau masuk ke dalam terminal. Padahal, angkot itu memiliki rute ke terminal. Namun, umumnya angkot hanya sampai depan terminal. Akibatnya, masyarakat yang hendak masuk ke dalam terminal menjadi susah.

Selain itu, umumnya operator bus di Kota Tasikmalaya sudah memiliki pool sendiri. Penumpang, kata dia, kemungkinan banyak yang memilih berangkat melalui pool bus dibanding terminal, lantaran posisinya lebih dekat ke pusat kota. 

"Padahal fasilitas di terminal apa yang kurang sih? Saya rasa kita sudah mumpuni. Kalau ada kurang, masyarakat bilang saja, biar kita kita akan evaluasi," ujar dia.

Sementara itu, salah satu warga Tasikmalaya yang sering berpergian ke Jakarta menggunakan bus, Adi (39 tshun) mengatakan lebih memilih berangkat melalui pool bus Budiman, yang menjadi langganannya. Menurut dia, berangkat dari pool Budiman lebih dekat daripada melalui Terminal Indihiang.

"Ke terminal mah jauh. Lagian Budiman belum tentu masuk juga," kata warga Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya itu, Kamis (26/12).

Berdasarkan pantauan Republika.co.id, setidaknya terdapat tiga pool bus besar di Kota Tasikmalaya, bus Budiman, Primajasa, dan Doa Ibu. Tempat itu selalu ramai pengunjung ketika musim liburan atau akhir pekan.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi mengatakan, pemerintah berencana melakukan revitalisasi seluruh terminal di Indonesia mulai 2020, termasuk Terminal Indihiang. Selain membenahi fisik terminal, ekosistem di dalam terminal juga aman diubah.

"Kita harap itu bisa meningkatkan pelayanan dan jaminan keselamatan (bagi penumpang)," kata dia.

Budi menegaskan, Kemenhub juga akan menutup pool bus yang masih beroperasi. Menurut dia, rencana itu sudah dibahas berkali-kali dengan pemilik pool atau operator. Ia mengklaim semua pihak setuju akan rencana itu dan hanya tinggal menunggu eksekusi pada 2020.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement