Jumat 29 Nov 2019 04:38 WIB

Bahasa Masih Jadi Kendala Pekerja Migran

BLKPMI pun akan terus memperbaiki kurikulum dengan menambah pelatihan bahasa.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Ratna Puspita
TKI yang bekerja di luar negeri (ilustrasi).
Foto: Antara/Mika Muhammad
TKI yang bekerja di luar negeri (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kemampuan bahasa masih menjadi kendala para pekerja migran yang akan dikiromkan ke luar negeri. Karena itu, bahasa menjadi salah satu perhatian Balai Latihan Kerja Pekerja Migran Indonesia (BLKPMI) Jawa Barat. 

Menurut Kepala BLKPMI Disanakertrans Jabar, Teguh Khasbudi, bahasa seharusnya dikuasai oleh semua pekerja migran sebagai alat komunikasi agar mereka bisa bekerja dengan optimal. "Makanya, pelatihan kompetensi bahasa jadi nomor satu di balai kami. Selain itu, kami pun memperkenalkan sosial budaya dan skill," katanya kepada wartawan, Kamis (28/11).

Baca Juga

Teguh mengatakan, selama 2019 ini sudah ada 7 angkatan yang memperoleh pelatihan. Untuk angkatan terakhir, calon pekerja migran yang dilatih sebanyak 40 orang yang akan ditempatkan di Jepang untuk jabatan manufaktur.

"Ini angkatan terakhir, yakni angkatan 6 dan 7. Setiap tingkatan kami berupaya untuk terus meningkatkan kompetensinya," ujar Teguh.

Ke depannya, kata dia, BLKPMI pun akan terus memperbaiki kurikulum dengan menambah pelatihan bahasa. Ia berharap, semua calon pekerja migran mendapatkan pelatihan hingga 600 jam pelajaran.

Namun karena kemampuan anggaran daerah tak memadai, saat ini pelatihan hanya digelar 21 hari. "Tapi supporting anggran tak jadi kendala untuk kami berupaya meningkatkan kemampuan bahasa," katanya. 

Untuk menguasai bahasa, kata dia, memang diperlukan waktu yang cukup jadi pelatihan harus dilakukan intens. Misalnya, belaja bahasa Jepang membutukan waktu 6 bulan.

Salah satu upaya yang dilakukan agar pekerja migran mengusai bahasa adalah, kemampuan berbahasa negara tujuan migran menjadi salah satu syarat mengikuti pelatihan. "Jadi misalnya yang minat ke Jepang harus punya pengetahuan dasar bahasa Jepang," katanya.

Setiap calon pekerja migran, kata dia, sebelum mendaftar ke luar negeri sebaiknya mempelajari dahulu bahasa negara tujuan di SMA atau lembaga bahasa. Dengan demikian, mereka punya bekal bahasa jadi disiapkan saat pra rekrutmen. Bahkan, kalau bisa ada ekskul bahasa.

Angkatan kerja yang potensial di SLTA, kata dia, harus disiapkan menjadi calon pekerja. Bahkan, sistem Jabar migran service center ke depan akan menggandeng Dinas Pendidikan Jabar  untuk melakukan mapping agar yang minat kerja menguasai bahasa. 

"Kami punya kategori juga, peserta di BLKPMI harus punya kemampuan dasar bahasa," tegasnya. 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi