REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Letusan awan panas kembali terjadi di Gunung Merapi pada Senin (14/10) sore. Letusan yang terjadi pada 16.31 itu terekam di seismogram dengan amplitudo 75 milimeter dan durasi 270 detik.
"Kolom asap letusan setinggi kurang lebih 3.000 meter dari puncak," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, kepada wartawan Senin (14/10) malam.
Untuk mengantisipasi gangguan abu vulkanik atas penerbangan, Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) diterbitkan dengan kode warna oranye. Hujan abu dilaporkan terjadi di sekitar Gunung Merapi.
Arahnya dominan ke sektor barat sejauh 25 kilometer dari puncak pada 18.05. Namun, Hanik menekankan, tidak teramati peningkatan data yang signifikan menjelang kejadian letusan tersebut.
Kejadian ini disebabkan akumulasi gas vulkanik yang terlepas secara tiba-tiba. Ancaman bahaya dari kejadian ini sama seperti letusan sebelumnya yang terjadi Ahad (22/9) yaitu awan panas letusan (apl).
Sumbernya, tidak lain merupakan material kubah lava. Hasil pemodelan menunjukkan jika kubah lava saat ini, 468.000 meter kubik runtuh, tetapi luncuran awan panas tidak melebihi radius tiga kilometer.
"Masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi," ujar Hanik.
Untuk informasi aktivitas Gunung Merapi, masyarakat dapat mengakses informasi resmi lewat pos-pos pengamatan terdekat. Dapat pula lewat radio komunikasi 165.075 MHz, media sosial BPPTKG atau kantor BPPTKG.