Kamis 10 Oct 2019 05:00 WIB

DKM Al Falah: Masjid Ini Terbuka untuk Siapa Pun

DKM Al Falah menilai pengakuan Ninoy merusak citra masjid tersebut.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Teguh Firmansyah
Kondisi Masjid Al Falah, Pejompongan, Jakarta Pusat pada Rabu, (9/10). Masjid itu jadi buah bibir lantaran diduga jadi lokasi pemukulan, penyekapan hingga persekusi terhadap Ninoy Karundeng. 
Foto: Republika/Rizky Suryarandika
Kondisi Masjid Al Falah, Pejompongan, Jakarta Pusat pada Rabu, (9/10). Masjid itu jadi buah bibir lantaran diduga jadi lokasi pemukulan, penyekapan hingga persekusi terhadap Ninoy Karundeng. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masjid Al Falah, Pejompongan, Jakarta Pusat jadi buah bibir lantaran diduga jadi lokasi pemukulan, penyekapan hingga persekusi terhadap Ninoy Karundeng.

Anggota Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Falah, Iskandar mengungkapkan saat terjadi unjuk rasa akhir September lalu, pendemo menjadikan Masjid itu sebagai persinggahan. Dari mulai aktivitas shalat atau istirahat dilakukan pendemo di sana. Bahkan Masjid pun sempat dijadikan posko medis saat itu demi mengobati pendemo yang luka.

Baca Juga

Ternyata itu bukan kali pertama Masjid Al Falah jadi persinggahan pendemo. Iskandar mengatakan, hampir tiap ada aksi demo di DPR, Masjid Al Falah selalu ramai. Para pendemo kesulitan mencari tempat ibadah atau sekedar tempat istirahat selain disana. Letak Masjid Al Falah pun strategis karena hanya berjarak beberapa ratus meter dari gerbang utama DPR yang jadi lokasi demo.

"Jamaah banyak dari mana-mana karena strategis. Tiap pendemo DPR dari golongan mana pun biasa shalat, istirahat disini. Masa kami tutup masjidnya buat mereka?" katanya saat ditemui Republika.co.id, Rabu (9/10).

Ia menyampaikan pengurus Masjid tak pernah membeda-bedakan tamu yang datang. Bahkan pengurus juga tak mempersoalkan latar belakang agama tamu Masjid, asalkan tak melakukan perbuatan jahat. "Kami non-Islam juga terima kalau mau istirahat disini. Kan kita enggak tanya agamanya apa pas ada yang datang," ujarnya.

Bahkan pengurus Masjid juga menyediakan air minum beserta teh dan kopi gratis bagi siapa saja tamu yang datang, termasuk pendemo. Ia berkelakar bahwa tiap ada pendemo, air minum itu selalu habis dengan cepat. "Air kami siapin untuk siapa saja. Kalau ada pendemo tapi cepat habis," singgungnya.

Pengurus Masjid hanya keberatan bila Masjid dijadikan titik kumpul oleh pendemo. Sebab hal itu dikhawatirkan malah mencitrakan Masjid seolah berafiliasi atau mendukung gerakan demo tertentu. Sedangkan Masjid pada prinsipnya dibuka untuk umum. "Disini enggak boleh jadi titik kumpul demo, tapi kalau mau istirahat kesini ya enggak apa-apa," ucapnya.

Dengan segala kemudahan yang diberikan Masjid Al Falah pada tamunya, ia kecewa dengan tuduhan Ninoy. Ia merasa tuduhan itu malah menodai citra Masjid Al Falah.

"Masyarakat sini menyayangkan karena Ninoy bilang diculik dan disekap," keluhnya.

Masjid dengan dua lantai itu ibarat oase di tengah hiruk pikuk Ibu Kota. Selama Republika.co.id, berada d isana, puluhan orang lalu lalang baik untuk beribadah atau istirahat sejenak.

"Makanya kami luruskan jangan Masjid jadi sasaran. Umat Islam bisa tersinggung. Saya khawatir citra Islam makin jelek. Masjid terstigma jadi tempat radikal," tambahnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus penculikan dan penganiayaan Ninoy Karundeng. Sebanyak 12 tersangka sudah ditahan dan satu orang ditangguhkan penahanannya karena alasan kesehatan. Rizky Suryarandika

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement