Jumat 04 Oct 2019 13:27 WIB

Freedom Institute: Pendatang Masih Ingin Kembali ke Wamena

Kehidupan warga pendatang dan warga lokal berjalan harmonis sejak lama.

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Teguh Firmansyah
Sejumlah pengungsi korban kerusuhan Wamena tiba di Pelabuhan Sukarno Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (4/10/2019).
Foto: Antara/Abriawan Abhe
Sejumlah pengungsi korban kerusuhan Wamena tiba di Pelabuhan Sukarno Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (4/10/2019).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Direktur Eksekutif Freedom Institute, Rizal Mallarangeng mengatakan, sebagian besar warga pendatang masih ingin kembali ke Wamena, Papua. Menurutnya, interaksi kehidupan antara warga pendatang dan warga asli Papua sudah berjalan lama. 

Menurut Rizal, keharmonisan seluruh warga Wamena baik yang pendatang merupakan orang asli Papua harus tetap harmonis dan diciptakan kembali agar tidak ada perpecahan.

Baca Juga

“Keharmonisan hidup berdampingan antara siapa pun yang tinggal di Bumi Cendrawasih sudah terpupuk dari dulu hingga sekarang. Karenanya, adanya hoaks dan isu rasisme sangat disayangkan terjadi. Jadi jika ada kerusuhan seperti kemarin, maka itu pasti diciptakan oleh pihak lain yang ingin memecah belah," kata Rizal dalam keterangannya, Jum’at (4/10).

Oleh sebab itu, Rizal mengimbau kepada semua pihak untuk lebih selektif menerima informasi. Kabar bohong yang sengaja diciptakan dinilainya bisa memunculkan disintegrasi. Dia meyakini, warga pendatang yang sudah lama menetap di Wamena pun akan kembali.

"Saya yakin, warga pendatang yang sudah lama tinggal di Wamena, dan sudah menjadi warga lokal akan kembali ke Wamena. Karena selama ini, hubungan antara mereka dengan warga asli sudah sangat kondusif," jelas Rizal.

Rizal menyebut, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya semakin kondusif pasca kerusuhan pada 22 September lalu. Sehingga, sebagian besar warga pendatang yang masih tinggal di pos-pos pengungsian akan segera kembali ke rumah asalnya di kota tersebut.

Freedom institute menyebutkan, warga yang sudah puluhan tinggal, bekerja, atau membuka usaha di Wamena, menyatakan sebelumnya tidak pernah ada masalah dengan warga asli Papua. Oleh karena itu mereka yakin akan kembali rukun dan menjalani kehidupan normal seperti sediakala.

"Kami saling kenal dan hidup rukun. Oleh karena itu saya ingin kembali. Bukan hanya ingin meneruskan usaha, tapi juga karena saya yakin mereka juga baik terhadap kami," ujar Satria, ibu dua anak yang sudah 19 tahun tinggal di Wamena seperti dikutip oleh Freedom Institute. 

Satria yang mengungsi di Masjid Al Aqsha, Jalan Polres Kota Sentani, Jayapura menambahkan, saat kerusuhan terjadi, ia diselamatkan oleh warga Papua yang juga menolong warga lainnya untuk bersembunyi ke gereja terdekat di Wamena.

"Jadi sebenarnya, kami hidup sangat rukun. Para perusuh yang merusak dan membuat situasi Wamena. Jika sudah aman, kami ingin kembali," jelasnya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement