Rabu 24 Jul 2019 12:10 WIB

Gempa Jembrana tak Ganggu Sembahyang Galungan

Pascagempa Jembrana aktivitas di Bali sudah kembali normal.

Umat Hindu menyiapkan penjor atau bambu yang dihias menggunakan daun lontar dan hasil bumi untuk Hari Raya Galungan dan Kuningan di Pura Agung Jagatnatha, Denpasar, Bali, Senin (22/7/2019). Menjelang Hari Raya Galungan pada (24/7) dan Hari Raya Kuningan pada (3/8), seluruh pura di Pulau Bali dihiasi sarana upacara untuk merayakan kemenangan
Foto: Antara
Umat Hindu menyiapkan penjor atau bambu yang dihias menggunakan daun lontar dan hasil bumi untuk Hari Raya Galungan dan Kuningan di Pura Agung Jagatnatha, Denpasar, Bali, Senin (22/7/2019). Menjelang Hari Raya Galungan pada (24/7) dan Hari Raya Kuningan pada (3/8), seluruh pura di Pulau Bali dihiasi sarana upacara untuk merayakan kemenangan "Dharma" atau kebaikan di atas "Adharma" atau kejahatan.

REPUBLIKA.CO.ID, BADUNG -- Aktivitas persembahyangan Hari Raya Galungan oleh umat Hindu di Bali, terpantau tetap lancar pascagempa bumi tektonik berkekuatan 4,9 SR yang kemudian dimutakhirkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi 4,6 SR di Kabupaten Jembrana, Bali, pada Rabu pukul 08.29 WITA. Kondisi di Bali juga secara umum sudah kembali normal.

"Laporan sementara yang kami terima melalui radio komunikasi, pascagempa kondisi aman terkendali, kegiatan masyarakat yang melakukan aktivitas persembahyangan Hari Raya Suci Galungan tetap berjalan lancar," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali I Made Rentin, di Denpasar, Rabu (24/7).

Baca Juga

Selain aktivitas persembahyangan umat Hindu, ia mengatakan, aktivitas wisatawan di berbagai destinasi di Pulau Bali juga terpantau ramai lancar. Operasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, dilaporkan tetap normal.

"Sampai saat ini tim kami belum menerima laporan kerusakan yang diakibatkan gempa bumi di Jembrana," katanya.

Pihaknya sedang melakukan assessment ke semua wilayah kabupaten/kota se-Bali untuk memastikan kondisi yang terjadi pada masyarakat terkait dampak gempa tersebut. Made Rentin mengimbau, seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan jangan resah serta selalu mengikuti arahan petugas dan informasi resmi yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah khususnya BPBD dan BMKG, mengingat banyaknya peredaran informasi berita hoaks.

"Kami BPBD Provinsi Bali dan kabupaten/kota se-Bali selalu siap siaga dengan personel lengkap yang didukung sarana prasarana untuk melakukan penanganan apabila terjadi bencana," katanya.

Sekretaris Paiketan Pemangku Kota Denpasar, I Made Langgeng Buana, yang saat kejadian gempa berada di Pura Jagatnatha Denpasar mengatakan, saat terjadinya gempa aktivitas persembahyangan umat Hindu di Pura tersebut tetap berlangsung lancar. Tidak ada umat yang panik.

"Saat gempa terjadi kami di sini juga tidak merasakan gempa itu. Mungkin karena saat itu umat yang bersembahyang jumlahnya banyak," katanya.

Ia menambahkan, seluruh umat ketika berdoa juga selalu memohon keselamatan bersama. "Sembahyang di sini kami lakukan untuk memohon keselamatan dunia," katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar BMKG Wilayah III Denpasar, M. Taufik Gunawan mengatakan, guncangan gempa bumi Jembrana dilaporkan dirasakan di daerah Kuta dengan skala IV MMI, dirasakan di wilayah Denpasar, Banyuwangi dan Jember dengan skala III MMI serta di wilayah Gianyar, Tabanan dan Lombok Utara skala II MMI. Dari hasil analisa BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut episenternya terletak pada koordinat 8,98 LS dan 114,17 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 84 km barat daya Jembrana dan kedalaman 71 km.

"Hasil pemodelan kami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Taufik Gunawan.

Ia menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempa bumi berkedalaman menengah itu diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempang Eurasia. "Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis naik mendatar (oblique thrust fault)," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement