Senin 06 May 2019 13:51 WIB

PLTA Batangtoru Konservasi Ikan Batak di Sungai Batangtoru

PLTA Batang Toru melakukan mitigasi terhadap potensi dampak pembangunan proyek.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih
Konservasi Ikan Batak oleh PLTA Batangtoru di Kab. Tapanuli Selatan, Sumut.
Foto: republika/idealisa
Konservasi Ikan Batak oleh PLTA Batangtoru di Kab. Tapanuli Selatan, Sumut.

REPUBLIKA.CO.ID, SITANDIANG - Pengembang proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru menjamin tidak akan mengganggu habitat satwa air serta ekosistem di wilayah Sipirok dan Marancar, Sumatra Utara. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) selaku pembangun proyek ini melakukan berbagai upaya untuk konservasi satwa serta air di lingkungan proyek.

PLTA Batang Toru telah melakukan tindakan mitigasi terhadap potensi dampak  yang mungkin timbul akibat pembangunan proyek melalui ESIA. ESIA (Environmental, Social and Impact Assessment), merupakan salah satu studi yang menjadi acuan bagi PLTA untuk menjalankan konservasi sumberdaya alam yang disebut sebagai Biodiversity Action Plan. 

Chief of Communications and External Affairs PT NSHE Firman Taufick menjelaskan, salah satu satwa yang diupayakan konservasinya adalah ikan jurung yang berkembangbiak di sepanjang 13 km Sungai Batangtoru dan keberadaannya sudah cukup langka.

Ikan jurung juga dikenal sebagai Ikan Batak merupakan ikan yang sangat sering dikonsumsi oleh masyarakat Sumatera Utara, utamanya dalam acara adat dan dianggap sakral. Penangkapan besar- besaran jenis ikan ini membuat keberadaannya hampir punah. Dalam upaya untuk melestarikan ikan ini di Sungai Batangtoru, PLTA menyediakan hatchery indoor dan memberikan pelatihan untuk pembudidaya.

"Kami melakukan pemijahan ikan jurung, nanti akan disebar lagi di sungai, dan diperbanyak. Kami sediakan hatchery indoor dengan 42 akuarium," kata Firman di Sitandiang, Kamis (2/5).

PLTA kemudian menggandeng pembudidaya Anton Sihombing dalam perkembangbiakan ikan jurung ini. Anton diberikan pelatihan budidaya ikan di Bogor 2017 dan ilmu serta teknologi yang dipelajarinya tersebut kemudian dipraktikkan di hatchery indoor ini.

"Kita berupaya ikan jurung tetap lestari. Karena memang untuk batak, ikan ini sangat penting dan sakral. Manfaatnya banyak, untuk obat lalu mitos-mitos lain yang berkaitan. Makanya banyak yang tangkap," kata Anton di Unit Pembudidayaan Rakyat Amfibi yang berada di Desa Padang Lancat, Tapanuli Selatan.

Anton telah belajar membudidayakan jenis ikan ini selama 10 tahun. Sebelumnya ia melakukan perkembangbiakan secara manual, dan tingkat keberhasilannya kurang dari 30 persen dari total telur yang dihasilkan induk.

"Setelah bekerjasama dengan NSHE dibangun hatchery indoor dan pemijahan bisa berhasil 90 persen. Ke depan kita berkeyakinan kata-kata punah ikan jurung ini akan jauh. Ini akan dibudidayakan lebih jauh lagi dan mengangkat ekonomi masyarakat disini," ujar Anton.

Selain untuk melakukan restocking atau melepas kembali benih- benih ikan ini ke Sungai batangtoru, unit pembudidayaan ikan jurung ini juga menyediakan benih untuk restocking di perairan Sumatra Utara, seperti di Danau Toba.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement