Jumat 22 Mar 2019 14:24 WIB

Kenangan Mbak Tutut Atas Nasihat Gusti Allah Ora Sare

Kenangan Mbak Tutut atas nasihat Pak Harto begitu membekas

Mak Tutut ketika membuka Musyawarah Nasional IV Persatuan Anak Transmigran RI (PATRI) yang berlangsung di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Foto: Muhammad Subarkah
Mak Tutut ketika membuka Musyawarah Nasional IV Persatuan Anak Transmigran RI (PATRI) yang berlangsung di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

JAKARTA — Putri sulung mendiang Presiden Soharto, Siti Hardijanti Rukmana,  mengenangkan kembali nasihat yang berulangkali dikatakan ayahandanya. Hal itu adalah nasihat ‘Jawa’ Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur).

‘’Itu satu —Gusti Allah ora sare— adalah salah satu nasihatnya di antara sekian banyak nasihat Pak Harto.  Cita-cita beliai yang lain dan selalu dikatakan adalah ingin mengembalikan Indonesia yang makmur, menjadi bangsa yang rukun, gotong royong, dan saling bantu berjuang meski ada perbedaan,” kata Mbak Tutut saat mengukuhkan Gerakan Bakti Cendana di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (20/3). 

Berbicara selama setengah jam, yang diselingi dialog dengan organisasi Gerakan Bakti Cendana, Mbak Tutut mengatakan, sesuai ajaran agama Islam pun adanya  perbedaan adalah rahmat. Jadi, katanya, tidak perlu saling menjelek-jelekan, dan melakukan apa yang bisa dilakukan untuk rakyat Indonesia.

“Apa yang bisa kita lakukan, lakukanlah. Mulailah dari yang kecil,” ujar Mbak Tutut.

Para pengunnjung yang memadati seisi aula Hotel Desa Wisata terdiam, menyimak setiap kalimat yang disampaikan Mbak Tutut dengan suara lembut. Terlebih saat Mbak Tutut mengatakan memulai dari yang kecil untuk membangun bangsa adalah anjuran Ibu Tien Soeharto, ibudanya tercinta.

“Ibu Tien mengatakan perbuatan kecil tapi menjadi bagian pembangunan bangsa itu lebih utama, daripada membangun sesuatu yang besar tapi menimbulkan masalah,” kata Mbak Tutut.

Khusus lepada kader Partai Berkarya, partai yang dinahkodai Tommy Soeharto, Mbak Tutut juga berpesan untuk tidak menyusahkan bangsa. Setiap kader Partai Berkarya harus menunjukan program yang dimiliki untuk membantu negeri.

Mbak Tutut tidak hanya mengingat pesan Ibu Tien, tapi masih belum lupa nasehat almarhum presiden Soeharto – sang ayah tercinta. Salah satunya, berikan apa pun untuk bangsa, meski mungkin hanya sebungkus nasi atau uang Rp 10 ribu.

“Jika tidak ada sama sekali untuk diberikan, berilah senyum,” kata Mbak Tutut. “Makanya, bapak (presiden Soeharto – red) selalu tersenyum, dan dikenang dengan julukan smiling general.”

Nasihat lain Pak Harto kepada anak-anaknya, kata Mbak Tutut, adalah tidak boleh dendam. Sebab, dendam tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah baru.

Mbak Tutut juga bercerita jelang Pak Harto mengambil keputusan berhenti sebagai presiden Republik Indonesia. Cerita dimulai ketika Pak Harto memanggil seluruh anaknya, dan menyampaikan keinginan mengundurkan diri.

“Bagaimana menurut kalian? Masyarakat sudah ramai meminta bapak berhenti,” Mbak Tutut menirukan kata-kata sang ayah. “Saya jawab, apa pun keputusan bapak kami tetap mendukung bapak berhenti karena sudah tidak dikehendaki rakyat,” lanjut Mbak Tutut.

Yang juga tidak bisa dilupakan Mbak Tutut adalah ketika Pak Harto memintanya mencarikan buku UUD 45. Saat itu, masih menurut Mbak Tutut,  Pak Harto mengatakan; “Bapak mau berhenti jadi presiden tapi saya mau memakai kata yang sesuai UUD 45. Bapak tidak mau mengatakan mengundurkan diri, tapi berhenti dari presiden.”

“Saya katakan kepada bapak, kan berhenti dan mengundurkan diri sama,” cerita Mbak Tutut. “Bapak mengatakan; tidak. Mengundurkan diri artinya sebagai mandataris rakyat, bapak mundur karena tidak mampu melaksanakan tugas. Berhenti artinya bapak, sebagai mandataris rakyat, disuruh berhenti karena tidak dipercaya lagi. Bukan karena kemauan bapak, tapi kaena kehendak masyarakat.”

Jadi, demikian Mbak Tutut, apa yang Pak Harto lakukan selalu berdasarkan UUD 45. Pak Harto tidak pernah melanggar undang-undang.

“Malam hari itu, bapak memanggil kami berenam dan menyampaikan keputusan berhenti. Adik saya mengatakan jangan dulu berhenti, beri kami kesempatan membuktikan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia mencintai bapak,” kata Mbak Tutut, dengan suara tersendat menahan tangis.

Respons Pak Harto saat itu, lanjut Mbak Tutut, adalah; “Sabar. Kalian tidak boleh dendam. Dendam tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah lebih besar.” Tidak hanya sekali Pak Harto mengingatkan anak-anaknya untuk tidak dendam, tapi setiap hari.

Selain itu. lanjut Tutut, memang tidak jarang pula Pak Harto menambah nasihatnya dengan; “Gusti Allah ora sare (tidak tidur) tersebut. Sebab, Pak Hartio yakin sekali, suatu saat rakyat akan tahu mana yang salah dan benar.”

Selain itu, ujar Tutut, dari hari ke hari nasihat itu menyadarkan dia dan adik-adiknya bahwa keputusan Pak Haro mengundurkan diri adalah yang terbaik. Baik itu untuk Pak Harto sendiri dan keluarganya.

“Setelah belajar Alquran, saya akhirnya tahu semua nasehat bapak adalah ajaran Allah SWT. Pak Harto selalu bersandar kepada Allah SWT,” tegas Mbak Tutut mengakhiri pidatonya.  Mendengar itu para hadirin menjadi terharu. Terlihat banyak yang menitikkan air matanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement