Selasa 05 Mar 2019 21:39 WIB

PolMark Prediksi Pertarungan Pilpres akan Ketat Hingga Akhir

Pemilih yang belum menentukan pilihan masih cukup besar yakni mencapai 33,8 persen.

Eep Saefulah Fatah
Foto: Republika/Iman Firmansyah
Eep Saefulah Fatah

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Lembaga survei PolMark Indonesia menyatakan persaingan pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 antara pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno akan berlangsung ketat. Berdasarkan survei, pemilih yang belum menentukan pilihan masih cukup besar yakni mencapai 33,8 persen.

"Sampai saat ini, kedua pasangan capres-cawapres sama-sama berpeluang menang," ujar CEO PolMark Indonesia Eep Saefulloh Fatah saat memaparkan hasil survei PolMark Indonesia, di sela Forum Pikiran, Akal dan Nalar, di Surabaya, Selasa (5/3).

Menurutnya, ketat persaingan kedua pasangan dilihat dari hasil survei tingkat elektabilitas, yakni capres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf hingga Februari 2019 cenderung stagnan karena hanya 40,4 persen, sedangkan capres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga mencapai 25,8 persen. Yang menarik, kata dia, pemilih "undecided voter" atau pemilih yang belum menentukan pilihan jumlahnya cukup besar, yakni mencapai 33,8 persen.

"Ini berarti, pertarungan Pemilihan Presiden 2019 masih sangat ketat, karena masing-masing pasangan punya peluang untuk menang," ujarnya lagi.

Tingkat elektabilitas 40,4 persen bagi Jokowi yang merupakan capres petahana, kata dia, dinilai sangat berbahaya karena berdasarkan pengalamannya melakukan survei pilpres maupun pilkada selama 10 tahun, jika elektabilitas petahana jauh di bawah 50 persen maka membahayakan.

Indikator posisi Jokowi sangat rawan, lanjut Eep, juga bisa dilihat dari tingkat kesetiaan pemilih, yaitu pemilih Jokowi yang sudah mantap atau tidak berpindah hanya 31,5 persen, sedangkan pemilih Prabowo yang mantap 33,8 persen.

Sementara itu, survei PolMark dilakukan pada kurun waktu Oktober 2018 hingga Februari 2019 meliputi 73 daerah pemilihan (dapil) dari total 80 dapil di seluruh Indonesia atau jumlahnya hingga 92,9 persen dari pemilih pada pemilu mendatang. Eep juga menyampaikan bahwa survei merupakan ikhtiar akademik yang bisa diuji dan layak jadi bahan perdebatan.

"Survei juga bukan vonis karena dilakukan dalam rentang waktu tertentu untuk memotret suatu keadaan saat itu. Jadi, pertarungan sesungguhnya baru akan terjadi pada hari H pemungutan suara," katanya pula.

Pemilihan umum serentak digelar 17 April 2019, yakni memilih anggota DPRD II, DPRD I, DPR RI, DPD serta presiden dan wakil presiden periode 2019-2024.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement