Ahad 10 Feb 2019 14:33 WIB

Bandara Lombok Sepi, Sopir Travel Ini 2 Hari tak Dapat Order

Penurunan tingkat penumpang pada Januari mencapai 23 persen.

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Teguh Firmansyah
Aktivitas di Lombok International Airport (LIA) tampak lengang pada Sabtu (9/2).
Foto: Muhammad Nursyamsyi/Republika
Aktivitas di Lombok International Airport (LIA) tampak lengang pada Sabtu (9/2).

REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK TENGAH -- Para sopir taksi dan travel di Lombok International Airport (LIA) mengeluhkan sepinya penumpang pesawat saat ini.

Seorang sopir travel bandara, Hendra (30) bahkan mengaku sudah dua hari tidak mengantar penumpang, meski selalu bersiap di konter yang berada tepat di depan pintu kedatangan penumpang.

"Sepi sejak gempa, sekarang tiket naik dan bagasi bayar yang membuat semakin sepi," ujar Hendra kepada Republika.co.id di LIA, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (9/2).

Hendra menambahkan, perusahan travel tempatnya bekerja menyediakan lima armada di LIA. Namun, sudah dua hari terakhir, kelima armada tersebut tidak ke mana-mana lantaran tidak ada penumpang.

Hendra menyebutkan, selain dampak bencana, harga tiket pesawat, penerapan bagasi berbayar, dan low season, keberadaan travel liar juga menjadi persoalan tambahan.

Menurut Hendra, travel liar yang ada di LIA membuat mereka yang resmi kelabakan. Dia mencontohkan, travel resmi yang memiliki konter di depan pintu kedatangan penumpang mematok tarif untuk satu mobil dari bandara ke Mataram mulai dari Rp 200 ribu.

Sedangkan, travel liar menawarkan harga jauh di bawah tarif tersebut. Belum lagi tindakan para travel liar yang berebut menawarkan jasa membuat para travel resmi tidak berkutik.   "Sistem menunggu di konter resmi berantakan, travel liar maju menawari penumpang dan memainkan harga kita bisa mati, kita yang resmi terbengkalai," kata Hendra.

Baca juga, Gemas Bantu Warga Lombok Lalui Masa Pemulihan.

Hendra juga pernah mendapat keluhan dari wisatawan mancanegara (wisman) terkait aktivitas para travel liar yang berebut mendapatkan penumpang.   "Turis-turis terutama yang asing juga risih. Pernah penumpang saya (wisman) bilang, ini bandara apa terminal," ucap Hendra.

Sopir dari Koperasi Taxi Mataram (Kotama), Sudirman (53), yang sehari-hari juga bertugas di LIA juga mengungkapkan hal yang sama. Sudirman menceritakan, sebelum bencana gempa terjadi, dalam sehari minimal dua kali Sudirman bisa mengantar penumpang yang baru tiba di LIA. Hal itu berdasarkan antrean konter Kotama di bandara. Namun, kondisi tersebut tak lagi terjadi saat ini.

"Dulu (sebelum gempa) sehari dua kali, sekarang dua hari paling dapat satu kali mengikuti antrean konter. Kadang-kadang dapat dan enggak dapat, ya seperti begini sampai siang belum dapat (penumpang)," ujar Sudirman.

Sudirman menyampaikan sepinya penumpang pesawat berdampak besar bagi pelaku industri dan jasa wisata seperti dirinya. Sudirman berharap pemerintah memiliki kebijakan khusus terkait harga tiket pesawat dan bagasi berbayar untuk Lombok dan wilayah yang terkena bencana lainnya.

"Kalau punya kebijakan kaji dulu, tolong pikirkan daerah pariwisata seperti kita, kan banyak juga produk oleh-oleh, kalau bagasinya bayar, yang mau beli nanti mikir," kata Sudirman.

Selain itu, Sudirman juga mendorong pemerintah menggencarkan even-even pariwisata di Lombok yang akan membantu percepatan pemulihan sektor pariwisata Lombok.  "Kalau bisa pemerintah adakan even-even untuk menarik wisatawan datang," lanjut warga Mataram tersebut.

Tak hanya Lombok

General Manager (GM) LIA Nugroho Jati mengatakan pergerakan pesawat di LIA pada Februari masih sama dengan yang terjadi pada awal tahun. Jati menyebutkan, penurunan tingkat penumpang pesawat pada Januari mencapai 23 persen dibandingkan Januari 2018. Jati menyampaikan, selama Januari hingga Februari, terjadi 40 pembatalan penerbangan setiap hari dari total sekira 100 pergerakan pesawat per hari di LIA.

"(Februari) masih sama, belum ada peningkatan (dari Januari)," ujar Jati kepada Republika.co.id pada Ahad (10/2).

Selain pembatalan penerbangan, sejumlah maskapai juga mengurangi frekuensi penerbangan ke LIA pada awal tahun ini. Jati mengatakan, rute penerbangan Lombok-Kuala Lumpur menggunakan AirAsia yang sebelumnya dua kali penerbangan sehari, saat ini hanya satu kali penerbangan dalam sehari.

Sedangkan, rute Lombok-Singapura mengunakan Silk Air yang sebelumnya tujuh kali penerbangan dalam sepekan kini menjadi hanya empat kali dalam sepekan.

"Intinya semua masih sama seperti Januari, namun AirAsia sudah mengajukan penambahan frekuensi yang lama, mau aktif lagi kembali ke normal," kata Jati.

Menurut Jati, penurunan jumlah penumpang pesawat terjadi di seluruh Indonesia, tidak hanya di Lombok. Dia menilai, kondisi ini dipengaruhi sejumlah hal, mulai dari masa low season, kenaikan harga tiket pesawat, dan minat wisatawan berlibur ke Lombok pascabencana. Jati melanjutkan, kondisi minat penumpang untuk berwisata ke Lombok dan sejumlah destinasi di daerah lain saat ini relatif berkurang.

"Kenaikan harga tiket itu juga mungkin ada pengaruh menurunkan minat penumpang sehingga ketika tiket itu tidak terjual maka banyak jadwal penerbangan yang drop dan ini rata di seluruh Indonesia," ucap Jati.

Mengenai keberadaan travel liar, Jati yang baru menjabat sebagai GM LIA pada awal Januari mengatakan sedang melakukan kajian dan evaluasi mendalam. Manajemen LIA, dia katakan, sedang melakukan sejumlah pembenahan agar memberikan kenyamanan bagi para pengguna jasa bandara. 

"Masih dalam tahap evaluasi karena hal ini (travel liar) perlu dikaji secara menyeluruh," kata Jati menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement