Senin 04 Feb 2019 23:23 WIB

Soal Pariwisata, NTB Disarankan Bisa Belajar dari Jabar

Potensi wisata halal di NTB perlu terus dieksplorasi dan ditingkatkan.

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Nashih Nashrullah
Kepala KPw BI NTB Achris Sarwani, Kepala Seksi Industri Kreatif, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Kepala Bagian Industri Perdagangan dan Pariwisata, Biro Produksi dan Industri Jabar saat dialog di Kantor Pemprov Jabar, Senin (4/2).
Foto: Republika/ Muhammad Nursyamsyi
Kepala KPw BI NTB Achris Sarwani, Kepala Seksi Industri Kreatif, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Kepala Bagian Industri Perdagangan dan Pariwisata, Biro Produksi dan Industri Jabar saat dialog di Kantor Pemprov Jabar, Senin (4/2).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Kepala Seksi Industri Kreatif, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat (Jabar), Ida Mahmudah, menilai Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi besar dalam mengembangkan sektor pariwisata.

Ida menyampaikan, pariwisata NTB, khususnya Lombok sempat menggegerkan dunia atas keberhasilannya menyabet penghargaan wisata halal terbaik dunia. 

Mulai banyaknya rute penerbangan langsung dari luar negeri ke NTB juga menjadi hal yang baik bagi perkembangan pariwisata NTB.

"Orang dulu mungkin liburan ke NTB setelah dari Bali, namun sekarang NTB perlahan sudah mulai menjadi destinasi tujuan utama wisatawan," ujar Ida saat menerima kunjungan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) NTB di Kantor Pemprov Jabar, Senin (4/2).

Meski begitu, Ida memberikan gambaran tentang pengembangan pariwisata Jabar yang mungkin bisa menjadi contoh bagi NTB. 

Gubernur Jabar Ridwan Kamil, kata dia, mencanangkan satu kabupaten dan kota memiliki satu destinasi baru.

Jabar juga melakukan pemetaan tentang konsep destinasi wisata di masing-masing kabupaten dan kota sesuai ciri khas. 

Dia mencontohkan, Kota Bandung menawarkan wisata buatan dan segudang industri kreatif, sementara Cirebon akan menjadi ikon kota kebudayaan, sedangkan Subang memiliki karakter wisata religi.

"Pangandaran akan kita berikan Rp 80 miliar untuk pengembangan pantai agar seperti Maladewa atau Hawai. Minimal tahun depan terwujud, tahun ini kita bangun," kata Ida. 

Seperti NTB, Jabar juga memiliki perhatian terhadap pengembangan segmen wisata ramah bagi keluarga muslim atau moslem friendly.

"Kita sudah ada perda tentang mushala yang tidak boleh lagi ada di basement pada mal atau hotel. Tujuan kami agar wisatawan tidur enak, beribadah pun juga enak," ucap Ida. 

Selain itu, Pemprov Jabar juga bersinergi dengan pemerintah kabupaten dan kota dalam pengembangan pariwisata.

Ida menyampaikan, pengembangan sektor pariwisata tidak hanya berpangku pada Disparbud, melainkan juga dukungan dari organisasi perangkat daerah (OPD) yang lain.

Kepala KPw BI NTB Achris Sarwani berharap kunjungan rombongan BI NTB bersama sejumlah wartawan NTB ke Jabar bisa mendapat manfaat, terutama pada pengembangan sektor pariwisata NTB.

"NTB kita tahu punya potensi besar, namun tentu masih banyak yang perlu dilakukan. Jabar mungkin bisa menjadi contoh dalam mengemas sektor pariwisata yang selalu menarik minat wisatawan," kata Achris.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement