Rabu 24 Oct 2018 05:18 WIB

Pemprov Siapkan Amdal Pengelolaan Sampah Sunter

Keberadaan ITF dinilai tidak menyelesaikan masalah

Rep: Farah Noersativa/ Red: Bilal Ramadhan
Sejumlah pekerja saat mencari sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (22/10).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah pekerja saat mencari sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (22/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Aji mengatakan pihaknya tengah menyiapkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) fasilitas pengelolaan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Jakarta Utara. Dia menyebut, Amdal itu harus selesai dan keluar pada saat peletakan batu pertama atau groundbreaking pada Desember 2018 mendatang.

“Sambil jalan terus. Amdalnya masih terus kita siapkan. Artinya di Desember ini udah harus keluar dengan Amdalnya, kan mau groundbreaking kan,” kata Isnawa dikonfirmasi Republika, Rabu (23/10).

Dia mengatakan, pembangunan ITF itu akan memakan waktu paling cepat selama dua tahun. Hal itu pun bergantung dari kapasitas tempat yang akan dibangun dan aspek-aspek lainnya.

Pada Mei 2019 nanti, dia menuturkan, pihaknya merencanakan side opening atau pembukaan lahan. Groundbreaking pada Desember nanti dilakukan lantaran adanya pembahasan mengenai pertimbangan nilai berat kalori sampah, sampai dengan konsep Business to Business (B2B) dan lain-lain.

“Jadi saya senang nih dengan Desember nanti groundbreaking sudah memberikan kepastian bahwa ITF akan segera dimulai di Jakarta,” kata Isnawa.

Isnawa juga menambahkan, pihak-pihak yang membangun antara lain Jakpro dan Fortune Finlandia. Sebab, Pemprov DKI telah melakukan penugasan untuk pembangunan ITF kepada Jakpro. Sementara pihaknya, akan lebih fokus kepada supply atau penyediaan sampahnya.

Isnawa mengatakan, fasilitas pengelolaan sampah di Sunter, Jakarta Utara diprediksi akan menampung sampah sebanyak 2.200 ton per hari. Padahal, sampah yang dihasilkan di DKI Jakarta mencapai 7.000 ton per hari.

“ITF Sunter diprediksi 2.200 ton per hari. Jadi Jakarta ini standardnya harus di atas 1.000 ton lah karena memang kita punya PR sampah karena saat ini ada 7.000 ton lebih,” jelas Isnawa.

Dia mengatakan, produksi sampah juga diprediksi akan bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Dia juga tak memungkiri sepanjang pembangunan ITF selama dua tahun ke depan, sampah akan meningkat sampai 8.500 atau 9 ribu ton.

Menurutnya, hal itu pun saat ini tengah dibahas oleh pihak-pihak yang terlibat dalam Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Pemprov DKI Jakarta juga tengah menggodok KPBU dalam rangka pembuatan ITF ini. Setelah jadi, maka Pemprov DKI tak perlu bergantung terhadap TPST Bantargebang.

Dia menambahkan, lifetime atau masa hidup TPST Bantar Gebang, menurut studi yang telah pihaknya lakukan, hanya mampu mencapai tahun 2021 sampai 2022. Sebab, kandungan sampah itu sendiri telah mendekati 39 juta ton. Ketinggiannya sendiri, kata dia, juga telah mencapai 30 meter.

Pihaknya mengkhawatirkan, banyak hal-hal yang tak diinginkan terjadi di sana. Seperti potensi longsor ketika hujan deras, atau kebakaran ketika musim kemarau. Sehingga, dia menekankan, Pemprov DKI tak memiliki banyak pilihan, selain memilliki pengelolaan sampah secara mandiri.

“Singapura saja yang sekecil itu sudah punya lima (ITF), di dalam kota Tokyo ada 23 walaupun kisarannya ada yang 200 ton ada yang 500 ton, tapi mereka sudah demikian,” kata dia.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menyebut keberadaan fasilitas pengelolaan sampah ITF di Sunter, Jakarta Utara nanti, tak ada bedanya dengan adanya TPST Bantar Gebang. Sebab, sistem ITF yang akan berjalan nanti memiliki sistem yang sama dengan TPST Bantar Gebang, yaitu kumpul-angkut-buang.

“Keberadaan ITF nanti tidak ada bedanya dengan TPST Bantar Gebang. Sistemnya tetap kumpul angkut buang, hanya bedanya nanti dibuangnya ke ITF-ITF yang berkapasitas masing-masing 2.200 ton per hari,” jelas Nirwono kepada Republika, Selasa (23/10).

Menurutnya, ketika nanti ada ITF pun, Pemprov DKI Jakarta juga harus mengadakan uang kompensasi bau, uang untuk perbaikan lingkungan, dan juga uang operasional truk angkut. Hal itu, kata dia tidak menyelesaikan masalah mendasar sampah sendiri.

Meskipun demikian, dia menegaskan, keberadaan ITF tak menyelesaikan sampah. Apalagi, seiring dengan kenaikan jumlah penduduk, yang membuat produksi sampah juga turut meningkat. “ITF percontohan di Sunter baru akan bertahap menampung sampah 2.200 ton per hari, sisanya kemana? Ya, masih ke TPST Bantar Gebang,” jelas dia.

Sementara, data yang didapat dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, produksi sampah Jakarta, kata dia, mencapai 6.400-6.800 ton per hari. Jumlah itu terdiri atas sampah rumah tangga 3.845 ton, sampah perkantoran sebanyak 1.429 ton, sampah industri, hotel, restoran 757 ton, dan sampah jalan, taman, stasiun, terminal, sebanyak 725 ton.

Komposisinya sendiri, lanjut dia, terdiri atas sampah organik sebanyak 53,75 persen,  kertas sebanyak 14,92 persen, dan plastik sebanyak 14,02 persen. Selain itu, gelas atau kaca sebanyak 2,45 persen, dan lain-lain sebanyak 14,86 persen.

Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking fasilitas pengelolaan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF)  di Sunter, Jakarta Utara. Ground-breaking itu dilakukan pada Desember mendatang.

“Jadi insya Allah bulan Desember besok akhir tahun kita bisa groundbreaking ITF di Sunter. Mudah-mudahan nanti bisa mengelola kapasitasnya 2.200 ton perhari. Jadi harapannya sebagian kita akan mulai,” jelas Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (22/10).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement