Senin 08 Oct 2018 15:52 WIB

Palu Sepuluh Hari Pascagempa yang Mulai Menggeliat

Siswa mulai datang ke sekolah, kantor gubernur mulai aktif, dan listrik pulih.

Pedagang menjajakan dagangannya di pinggir jalan Kacang Panjang, Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, Ahad (7/10).
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Pedagang menjajakan dagangannya di pinggir jalan Kacang Panjang, Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, Ahad (7/10).

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Aktivitas Kota Palu, Sulawesi Tengah, mulai berdenyut pada Senin (8/10) atau sepuluh hari pascagempa, tsunami, likuifaksi yang terjadi 28 September 2018. Sebagian siswa mulai datang ke sekolah, kantor gubernur Sulawesi Tengah mulai aktif, SPBU buka 24 jam, dan jaringan listrik berhasil dipulihkan.

Siswa-siswa SMAN 1 Palu juga sudah mulai ada yang datang ke sekolahnya itu. Begitu pula siswa-siswi dari beberapa sekolah lain yang kebetulan terletak di Jalan Gatot Subroto Kota Palu.

Siswa Kelas 9 SMPN 1 Palu, Salwa Amalia (14 tahun) dan Salma Amalia (14), mengatakan datang untuk didata ulang oleh para guru. "Saya baca berita Pak Menteri (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, red.), katanya harus segera didata siapa guru dan murid yang selamat dan siapa yang meninggal," ujar Salwa ditemui di sekolahnya di Palu, Senin. 

Siswa Kelas 9 SMPN 1 Palu lainnya, Muhammad Etno Ramadhan, juga datang ke sekolah untuk didata. Ia mengatakan ada teman sekelasnya yang tidak selamat dari musibah likuifaksi di Perumnas Balaroa Kota Palu sehingga sekolah meminta murid segera datang untuk didata.

photo
Nur Fainah (13 tahun) yang duduk di bangku sekolah kelas 2 SMP Negeri 5 Kabupaten Sigi sedang membantu ibunya berjualan di Pasar Inpres Manonda di Jalan Kacang Panjang, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Fainah salah satu anak korban gempa bumi, impiannya menjadi seorang perancang busana. (Republika)

Guru PPKN SMPN 1 Palu Ahmad Fauzi mengatakan mendapat informasi terkait dengan instruksi gubernur bahwa aparatur sipil negara (ASN) untuk kembali bekerja pada Senin (8/10). Informasi itu didapat dari grup whatsapp sekolah pada malam sebelumnya.

Pegawai negeri sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN) di berbagai instansi pemerintahan Provinsi Sulteng dan Pemerintah Kota Palu serta instansi lainnya memang mulai masuk kantor lagi setelah dilanda gempa dan tsunami pada Jumat (28/9) lalu. Mereka mengawali aktivitas di kantor dengan mengikuti apel pagi.

Meskipun belum terlihat seperti hari-hari kerja biasa sebelum gempa, kehadiran mereka pada hari pertama masuk kerja ini dapat mengawali normalisasi kegiatan kedinasan harian untuk hari-hari mendatang. Sebelum apel pagi dimulai, mereka saling menanyakan kabar dan keadaan sanak keluarga serta rumah mereka masing-masing.

Roda pemerintahan yang kembali berjalan normal seperti biasa agar kepercayaan masyarakat untuk kembali bangkit pascagempa juga semakin besar karena adanya pelayanan di instansi pemerintah daerah. (Sekretaris Provinsi Sulawesi Tengah Hidayat Lamakarate)

Agar masyarakat percaya untuk bangkit

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per 21 Desember 2017, jumlah PNS di pemerintah daerah di Sulteng sebanyak 68.530 orang. Belum ada data resmi berapa jumlah PNS yang menjadi korban gempa.

Sekretaris Provinsi Sulawesi Tengah Hidayat Lamakarate mengatakan seluruh aparat sipil negara maupun pegawai honor aktif kembali bekerja seperti semula. Dengan demikian, roda pemerintahan juga kembali berjalan normal seperti biasa.

Hal itu dimaksudkan agar kepercayaan masyarakat untuk kembali bangkit pascagempa juga semakin besar karena adanya pelayanan di instansi pemerintah daerah. Ia juga mengajak kepada ASN yang masih ada di pengungsian untuk kembali beraktivitas.

SPBU di Jalan Dewi Sartika, Palu, akhirnya bisa beroperasi kembali. Stasiun pengisian BBM dengan nomor 74.942.07 itu dipastikan dapat beroperasi selama 24 jam. 

Unit Manager Communication dan CSR Pertamina Marketing Operation Region VII Roby Hervindo menyatakan guna mendukung operasional SPBU Dewi Sartika, telah disiapkan BBM tiga kali lipat dari kebutuhan harian normal. “Pertalite sebanyak 16.000 liter dan premium 16.000 liter, jadi total hari ini sudah 48.000 liter," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin. 

Baca Juga: 

Sementara itu, PT PLN Persero berhasil memulihkan jaringan listrik pascagempa dan tsunami. Tidak hanya di Palu, jaringan listrik pulih di dua kabupaten lain di Sulteng, yakni Sigi dan Donggala.

"Seminggu pascagempa yang mengguncang Donggala, Palu dan Sigi. PLN berhasil memulihkan 45 penyulang dan 7 gardu induk," kata Direktur Bisnis Regional Sulawesi PLN Syamsul Huda melalui General Manager PLN Suluttenggo Edison Sipahutar di Manado, Senin.

Selain itu, katanya, PLN juga berhasil memperbaiki 1.192 gardu distribusi dan total 2.253 yang rusak. "Saat ini 45 penyulang di Palu seluruhnya telah dipulihkan oleh tim gabungan PLN. Dari total 2.253 gardu distribusi, kami juga telah berhasil memulihkan 50 persen atau 1.192 gardu distribusi," jelasnya.

Tercatat juga beban puncak pemakaian listrik pada siang hari ini di Palu dan sekitarnya mencapai 25,4 megawatt (MW). Sebelumnya, PLN juga telah berhasil memperbaiki tujuh gardu induk (GI) atau 100 persen yang ada di Palu, Donggala dan Sigi. Kini, seluruh GI telah kembali beroperasi.

Pencarian belum berhenti

Hingga hari ke-10 pascagempa dan tsunami yang menerjang Kota Palu, Sigi, dan Donggala, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah belum memutuskan apakah pencarian dihentikaan. Jika tidak dihentikan maka pencarian terus dilakukan sampai 14 hari sesuai ketentuan tanggap bencana.

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola mengatakan Pemprov Sulteng akan bertanya kepada masyarakat apakah mau melanjutkan pencarian korban atau menghentikan untuk menghindari dampak penyakit yang ditimbulkan.  “Sebagian masyarakat menghendaki untuk dihentikan dan lokasi itu dijadikan kuburan massal lalu dibangunkan monumen," kata dia di Palu, Senin.

Dia mengatakan pemerintah daerah bersama unsur terkait lainnya akan melakukan rapat koordinasi terkait akan berakhirnya masa tanggap darurat.

Ia mengatakan untuk saat ini pencarian korban masih terus dilakukan dan akan mempertimbangkan kondisi yang ada.

Sebab, ia mengatakan, dipastikan kondisi jenazah saat ini tidak utuh lagi karena sudah beberapa hari tertimbun tanah disertai lumpur. “Kalaupun ditemukan ya paling tidak dikenal lagi," katanya.

Jika masyarakat setuju upaya pencarian dihentikan maka lokasi tersebut (Kelurahan Balaroa dan Petobo di Kota Palu dan Desa Jono Oge di Kabupaten Sigi) akan dijadikan kuburan massal. Selanjutnya, lokasi itu ditetapkan sebagai ruang terbuka hijau karena tidak layak lagi untuk ditempati. (Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola)
photo
Pengendara motor melintasi jalan yang rusak di Desa Jono Oge, Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10). (Republika)

Ia mengatakan selain fokus menyelesaikan pencarian korban, tim penanggulangan bencana juga fokus pada distribusi bantuan logistik ke posko pengungsian melalui daerah masing-masing. "Karena tidak mungkin kami yang dari provinsi mengantar bantuan itu sampai ke kelurahan. Yang tahu itu ya pemerintah daerah masing-masing. Mereka yang tahu siapa semua warganya," katanya.

Badan Nasional Penanggulan Bencana pada 6 Oktober mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah telah mencapai 1.649 orang. Jumlah tersebut tersebar di Kota Palu sebanyak 1.413 orang, Kabupaten Sigi 64 orang, Donggala 159 orang, Parigi Moutong 12 orang dan Pasangkayu, Sulawesi Barat satu orang.

Korban luka berat mencapai 2.549 orang, korban hilang 265 orang, dan tertimbun 152 orang. Ia mengatakan terdapat tiga titik lokasi gempa paling rusak, yakni Kelurahan Balaroa dan Kelurahan Petobo, Kota Palu, serta Desa Jono Oge di Kabupaten Sigi.

Longki mengatakan jika masyarakat setuju upaya pencarian dihentikan maka lokasi tersebut akan dijadikan kuburan massal. Selanjutnya, lokasi itu ditetapkan sebagai ruang terbuka hijau karena tidak layak lagi untuk ditempati. 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement