Rabu 08 Aug 2018 06:36 WIB

Mural Asian Games, Bukan Sekedar Gambar

Kompetisi ini jadi pertemuan seniman mural terbesar dan terbanyak di Asia Tenggara

Rep: Muslim Abdul Rahmad/Flori Sidebang/ Red: Bilal Ramadhan
Sejumlah seniman membuat mural saat kompetisi mural di Jalan Layang Tol Rawamangun - Pulogadung, Jakarta, Sabtu (4/8).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah seniman membuat mural saat kompetisi mural di Jalan Layang Tol Rawamangun - Pulogadung, Jakarta, Sabtu (4/8).

REPUBLIKA.CO.ID, Tembok-tembok di kelurahan hingga gang sempit di Jakarta dilukis berbagai gambar dengan tema Asian Games. Dari pemerintah hingga rakyat biasa ikut serta dalam mewarnai Jakarta. Begitu juga dengan para muralis (pegiat mural) yang turut serta berkarya di tempat-tempat strategis.

Salah satunya di Jalan Tol Wiyoto Wiyono, kawasan Rawamagun sampai Pulo Mas, Jakarta Timur. Sebanyak 73 tiang tol dihiasi karya 292 orang muralis profesional selama lebih dari empat hari.

Para peserta tidak saja mengejar hadiah, mereka bahkan sudah sangat bersyukur saat diberikan kesempatan untuk turut serta melukis dan mempercantik ibukota dengan mural bertema Asian Games 2018. "Enggak harus menang, ikut saja sudah bangga," ujar Pamungkas (39 tahun), seorang muralis, di Jakarta, Selasa (7/8).

Pamungkas adalah salah satu peserta lomba mural yang diadakan PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) bersama dengan Cikini Art Stage (CAS). Pamungkas tergabung dalam komunitas mural Tiga Kubik. Sebuah komunitas para muralis yang berpusat di Kota Depok.

Untuk bisa ikut kompetisi mural ini, Pamungkas dan satu orang temannya harus mengirimkan konsep karya, konsep itu bertarung dengan ribuan konsep lainnya. "Daftar dan ikut seleksi, kita cuma turun berdua, karena ini kompetisi, bukan job," tutur dia.

Pria yang sudah melukis dinding dan media lainnya sejak sekolah ini sangat bangga bisa menjadi satu di antara 73 kelompok lainnya. Ia mengatakan, keikutsertaan dalam pesta olahraga yang hanya bisa puluhan tahun sekali digelar di Indonesia adalah sebuah kehormatan.

Pamungkas dan satu orang temannya butuh waktu tiga hari satu malam untuk mengerjakan mural dengan tema 'Culture and Diversity Energy of Asia' itu. Bagi Pamungkas, kompetisi ini bukan sekedar untuk eksistensi. Ia sudah melukis mural selama empat tahun tanpa dibayar.

Baginya membuat mural bukan sekedar hobi, tapi cara untuk menyampaikan pesan. Cara untuk berkontribusi terhadap peradaban bangsa Indonesia. Mural yang digambar Pamungkas pada kompetisi ini berupa gambar wayang dan naga. Wayang lengkap dengan batiknya, juga Petruk dan Gareng terlihat jelas di tiang tol. Di sebelahnya ada gambar naga.

Untuk ikut kompetisi mural ini, Pamungkas membayar sebesar Rp 200 ribu. Selain untuk administrasi, biaya itu juga untuk cat. Panitia menyediakan lima buah cat serta konsumsi peserta selama kompetisi. Waktu peserta juga dibatasi untuk mengerjakan mural tersebut. Setiap pukul 18.00 WIB, semua peserta harus meninggalkan lokasinya. Lalu akan dimulai pada keesokan harinya.

Pamungkas sangat bangga dengan warga yang turut serta meramaikan mural di tempatnya masing-masing. Menurutnya selama ini mural yang ada tanpa tema, setiap orang menggambar mural sesuai dengan keinginannya. Namun,dengan adanya Asian Games, semua mural menjadi satu tema.

Aidil Usman, dari Cikini Art Stage (CAS) mengatakan para peserta sangat antusias. Ide kompetisi yang berawal dari gagasan para seniman yang tergabung dalam CAS itu diapresiasi dan disambut baik oleh pihak CMNP.

Kompetisi ini sengaja hanya diikuti sebanyak 73 kelompok. Tujuannya, kata Aidil, untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 tahun. Satu kelompok beranggotakan dua hingga lima orang muralis, mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Semua peserta sudah melalui proses seleksi, dimulai dari desain dan konsep gambar. Pendaftaran dibuka via online dengan mengirimkan desain mereka via email. Tema 'Culture and Diversity Energy of Asia' jadi poin penilaian utama para juri.

Saat ini proses penjurian tengah berlangsung. Aidil mengatakan, pihaknya kesulitan untuk memilih mana yang terbaik. "Semua karya mereka bagus dan mewakili Indonesia," kata Aidil.

Kompetisi ini memiliki juri yang ternama di bidangnya, sebut saja Hanafi (perupa dan pelukis), Bambang Asrini Widjanarko (kurator seni rupa) dan Seno Joko Suyono (wartawan senior seni budaya). Kurator seni rupa, Bambang Asrini Widjanarko, mengatakan, kompetisi semacam ini merupakan pertemuan para seniman mural terbesar dan terbanyak di Asia Tenggara. Lebih dari 200-an seniman ambil bagian dalam ajang ini.

Direktur Utama PT Citra Marga Nursaphala Persada Tbk (CMNP), Tito Sulistio mengatakan, karya-karya mural para peserta yang menghiasi tiang-tiang jalan layang tol itu diharapkan mampu menjadi spirit pelaksanaan Asian Games 2018. Baik spirit para atlet, masyarakat umum, maupun para pemangku pesta olahraga terbesar di Asia ini.

"Tidak hanya sebatas itu, mural ini juga bisa menjadi prasasti dan artefak atas hajatan besar empat tahunan yang diikuti 45 negara se-Asia dan kelak akan selalu dikenang oleh para generasi bangsa tercinta ini," ujar Tito.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement