Jumat 03 Aug 2018 06:36 WIB

Pelican Crossing Berguna untuk Pejalan Difabel

Jakarta sudah harus mulai membangun penyeberangan orang di bawah tanah

Rep: Muhammad Ikhwanuddin/Farah Noersativa/ Red: Bilal Ramadhan
Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (ketiga kiri) dan ibu dari Gubernur DKI Jakarta Aliyah Rasyid Baswedan (kedua kiri) menyeberangi Pedestrian Light Control (Pelican Crossing) di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (2/8).
Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (ketiga kiri) dan ibu dari Gubernur DKI Jakarta Aliyah Rasyid Baswedan (kedua kiri) menyeberangi Pedestrian Light Control (Pelican Crossing) di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (2/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari ketiga pengoperasian pelican crossing di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, berjalan normal. Keberadaan pelican crossing ini rupanya dinilai membantu, terutama pejalan kaki difabel.

Seorang pejalan kaki difabel, Hartati, menilai bahwa pelican crossing dapat membantunya agar lebih mudah menyeberang. Ia mengatakan telah memiliki masalah di lutut kaki yang kerap kelelahan ketika harus menaiki tangga JPO.

"Bawaannya cenat-cenut dengkul (lutut) kalau naik-naik, nyebrang begini jadi gampang lah," kata Hartati yang ditemui Republika, Kamis (2/8).

Senada dikatakan Heru. Ia berjalan menggunakan tongkat karena kaki kirinya sudah tidak begitu kuat menopang tubuhnya karena kecelakaan beberapa tahun lalu. Untuk menyeberang jalan menggunakan JPO sangat menyulitkannya. Dengan keberadaan pelican crossing, mempermudahnya untuk menyeberang Bundaran HI yang padat kendaraan.

Namun begitu, keberadaan pelican crossing dinilai memperlambat aktivitas. Hal ini dikatakan pejalan kaki lainnya, Sintia. Ia mengatakan, lampu merah di ruas jalan yang satu dengan yang lainnya di Bundaran HI tidak saling berhubungan.

"Jadi kalau saya nyeberang sering cuma sampai tengah saja, terus nunggu lagi dan itu makan waktu jadinya," ucap dia.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menjajal menyeberang di pelican crossing yang berada di Jalan Thamrin kawasan Bundaran HI pada Selasa (31/7) lalu. Menurutnya, durasi waktu melintasi penyeberangan berlampu itu masih dikaji oleh Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta.

Anies menjelaskan hal yang harus dipertimbangkan untuk menentukan durasi menyeberang di penyeberangan berlampu tersebut terkait dengan kepadatan lalu lintas dan pejalan kaki. Untuk melihat kepadatan tersebut, ia menyebutkan, ada tiga hal yang harus diperhatikan.

Pertama, kondisi lalu lintas di sekitar Bundaran HI. Kedua, waktu penyeberangan karena kepadatan lalu lintas pada pagi hari akan berbeda dengan siang hari dan sore hari. Ketiga, kepadatan pejalan kaki.

Ia menambahkan data kepadatan bisa dilihat dari rekaman CCTV yang terpasang di beberapa titik di Bundaran HI. Dari CCTV itu, lanjutnya, akan terlihat secara detail mengenai kepadatan kendaraan yang melintas dan kepadatan pejalan kaki.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah mengatakan pihaknya masih akan menjaga pelican crossing selama 24 jam. Jika masyarakat telah memahami konsep pelican crossing, maka personelnya sudah tidak perlu diturunkan lagi.

“Di Jakarta, sudah ada beberapa pelican crossing. Namun yang saat ini berfungsi ada di Jalan MH Thamrin ini,” ujar Andri.

Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga mengatakan bahwa penataan lanskap visual, termasuk dalam pembangunan pelican crossing, tetap harus memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan. Ia menyoroti soal jumlah jembatan penyeberangan orang (JPO) di jalan protokol Jakarta, khususnya ruas Sudirman-Thamrin.

Ia menilai jumlah JPO yang terlalu banyak dapat menyebabkan stres karena JPO tersebut dapat mengganggu visual lanskap jalan raya. Itulah alasan Gubernur DKI Jakarta 1997-2007, Sutiyoso sempat memiliki rencana penghapusan JPO dan menggantinya dengan jembatan bawah tanah.

Penyeberangan lintas bawah itu, kata Nirwono dapat melindungi pejalan kaki dari lalu lintas kendaraan. Selain itu, dengan berkurangnya JPO, maka Pemprov memiliki kesempatan lebih besar untuk menanam lebih banyak pohon-pohon besar yang meneduhkan.

Kakorlantas Polri, Irjen Pol Royke Lumowa mengapresiasi dengan dibangunnya pelican crossing sebagai pengganti JPO di Bundaran HI yang dirobohkan. Ia menilai dengan dirobohkannya JPO tersebut, menambah keindahan Bundaran HI dan Patung Selamat Datang yang ada di tengahnya.

"Secara estetika bagus kalau dilihat ya, seperti di luar negeri, jadi kelihatan Patung Selamat Datang dari jauh," kata Royke.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi