Jumat 02 Feb 2018 05:37 WIB

Pro Kontra Perubahan Nama Mampang-Buncit Jadi AH Nasution

Belum ada yang bisa mengonfirmasi nama Mampang dan Warung Buncit terkait sejarah.

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Elba Damhuri
Sejumlah kendaraan melintas di Ruas Jalan Mampang, Jakarta, Rabu (31/1).
Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Sejumlah kendaraan melintas di Ruas Jalan Mampang, Jakarta, Rabu (31/1).

REPUBLIKA.CO.ID Jalan Mampang Raya dan Jalan Warung Buncit merupakan dua jalan raya di Jakarta Selatan yang cukup dikenal. Jalanan yang menyambungkan Tol Dalam Kota dan Tol Luar Kota alias JORR tersebut membentang dari daerah Kuningan hingga hampir ke Ragunan. Jalan tersebut merupakan akses masyarakat menuju dua wilayah komuter, yaitu Bogor dan Depok. Tentu, banyak masyarakat pinggiran yang setiap harinya bekerja di Ibu Kota, sering kali melewati jalan tersebut.

Sempat beredar kabar dilakukan sosialisasi perubahan nama Jalan Mampang Raya dan Jalan Warung Buncit menjadi Jalan Jenderal Besar Dr AH Nasution. Menurut Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi, perubahan nama tersebut adalah permintaan dari Ikatan Keluarga Nasution (Ikanas).

Usulan tersebut menuai pro dan kontra. Berbagai pihak mengungkapkan pendapatnya. Masyarakat sendiri memiliki pandangan yang berbeda terkait usulan perubahan nama tersebut.

"Enggak masalah, niatnya bagus juga buat mengenang nama pahlawan. Tapi, mungkin bakal butuh waktu lama buat orang terbiasa sama nama jalan itu," kata salah satu warga yang kerap melewati Jalan Warung Buncit-Mampang Raya, Vero (21 tahun), yang merupakan warga Ragunan, Kamis (1/2).

 

Ada pula warga yang tidak setuju dengan wacana perubahan nama jalan. Menurut salah satu warga Mampang Prapatan, Wiwin (35), perubahan nama jalan nantinya akan merepotkan masyarakat sekitar. "Nanti harus ganti alamat gitu, repot sih kayaknya," ujar Wiwin.

Ketua Komisi A DPRD DKI Riano P Ahmad berpendapat, perubahan nama jalan tersebut akan membawa dampak kebaikan bagi masyarakat, terutama dalam hal pengetahuan akan sejarah. Pihaknya mewakili legislatif merasa tidak mempermasalahkan upaya Pemprov DKI untuk memberi nama Jalan AH Nasution. "Perubahan nama tersebut untuk menghormati jasa seorang pahwalan," kata politikus PPP tersebut.

Riano menilai, perubahan nama tersebut selain menghormati jasa mantan kepala staf Angkatan Bersenjata tersebut, juga bisa mengenalkan sosok Nasution kepada generasi sekarang. Karena itu, dengan pemberian nama tersebut akan baik bagi pembelajaran sejarah secara langsung ke masyarakat.

"Betul sekali, di samping menghormati jasanya dan juga sebagai edukasi sejarah," tutur Riano.

Anggota Komisi A DPRD DKI Syarif juga setuju Jenderal Besar AH Nasution diabadikan menjadi nama jalan. Menurut dia, pemberian nama jalan untuk pahlawan nasional itu berarti upaya menghargai jasanya.

"Kita senang supaya generasi bangsa berikutnya bisa mengenang jasa-beliau beliau sebagai pahlawan," kata Syarif.

Sementara itu, sejumlah sejarawan mengutarakan penolakan terkait perubahan nama Jalan Mampang Prapatan Raya dan Jalan Warung Buncit Raya. Pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI) Asep Kambali mengungkapkan, seharusnya nama kedua jalan itu tidak diganti begitu saja. Dia mengingatkan Pemprov DKI untuk menampung berbagai pandangan sebelum mengubah nama jalan.

"Jadi, kelihatannya terburulah kalau langsung diganti. Lebih diteliti lagi, saya sepakat dengan JJ Rizal, Bang Yahya Saputra. Kalau mau mengganti melibatkan juga sejarawan, budayawan, dan kalangan Betawi karena secara sosial historis mereka punya ingatan emosional dan kita secara akademis tahu bahwa memang ada sejarah yang harus kita hargai," kata Asep saat dihubungi.

Asep mengatakan, perubahan nama bisa saja dilakukan, tetapi seharusnya dilakukan di lokasi yang berhubungan dengan Jenderal Besar AH Nasution. Dia menyarankan, Pemprov DKI sebaiknya mengubah penamaan jalan bunga untuk diganti dengan tokoh nasional. Selain tidak menimbulkan kontroversi, juga namanya tidak memiliki ikatan dengan budaya masyarakat.

"Saya kira, memang di tempat yang relevan yang artinya dia memiliki peran, memiliki ikatan emosional dengan jalan tersebut," kata Asep.

Terkait dengan sejarah nama Mampang Prapatan dan Warung Buncit, Asep menjelaskan, memang belum ada sejarah yang mengonfirmasi asal-usul nama kedua tempat tersebut. Namun, beberapa versi penjelasan telah muncul terkait asal usul baik nama Mampang Prapatan dan Warung Buncit.

"Ada yang bilang buncit itu karena warung terakhir. Tapi dari buku Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe itu memang warung milik itu orang Tionghoa namanya Buncit. Tapi, ini masih perlu diteliti lagi, tapi secara sumber sejarah belum bisa dibuktikan jadi hanya nebak-nebaklah," kata Asep.

Dia melanjutkan, untuk Mampang sendiri juga sama dari kata terpampang. "Tidak pasti, tapi kalau dari prapatannya jelas, karena ada perempatan di situ," kata Asep menjelaskan. Meskipun demikian, nama-nama jalan itu masih berhubungan dengan keadaan sosial budaya di lokasi tersebut pada masa lalu. Oleh karena itu, penggantian nama harus memerlukan proses yang panjang dan melibatkan sejarawan dan budayawan. (Pengolah: erik purnama putra).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement