Jumat 19 Jan 2018 11:38 WIB

Menhan Beberkan 4 Isu Krusial dalam Dialog di India

Ancaman yang sangat sangat nyata saat ini adalah bahaya terorisme dan radikalisme.

Rep: Erik Purnama Putra/ Red: Andi Nur Aminah
Menhan Ryamizard Ryacudu saat menjadi pembicara dalam Dialog Rasina di New Delhi, India, Kamis (18/1)
Foto: Dok Kemenhan
Menhan Ryamizard Ryacudu saat menjadi pembicara dalam Dialog Rasina di New Delhi, India, Kamis (18/1)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengingatkan, saat ini dunia sedang menghadapi empat isu krusial yang dapat mengganggu keamanan kawasan dan wilayah. Empat isu krusial tersebut masing-masing, yaitu Korea Utara, perkembangan Laut Cina Selatan, isu trilateral pengamanan Laut Sulu dari potensi ancaman ISIS, serta perkembangan krisis Rohingya.

"Saat ini dunia masih diwarnai dengan adanya empat isu aktual keamanan serius yang perlu mendapatkan perhatian kita bersama," kata Menhan dalam keterangannya saat menyampaikan materi kunci dalam 'Dialog Raisina' di New Delhi, India, Kamis (18/1).

Terkait isu ketegangan di semenanjung Korea, Ryamizard mengajak semua pihak untuk tidak terprovokasi dengan situasi yang justru dapat memicu eskalasi konflik.  "Marilah kita bersama-sama mengajak PBB untuk dapat mengambil langkah-langkah produktif untuk dapat lebih menekan Korea Utara agar dapat lebih menghormati hukum dan norma serta tatanan internasional," ucapnya.

Di sisi lain, situasi ketegangan Laut Cina selatan yang sudah cenderung mereda dan membaik perlu terus dipelihara. Indonesia juga memandang untuk mengapresiasi niat baik Cina yang sudah membuka diri dan berkeinginan untuk bekerja sama dalam memperkuat arsitektur keamanan kawasan.

Ryamizard mengingatkan, ancaman yang sangat sangat nyata pada saat ini dan harus memerlukan perhatian dan tindakan bersama yang konkret dan serius adalah bahaya terorisme dan radikalisme. Hal itu karena ancaman tersebut bersifat lintas negara dan memiliki jaringan serta kegiatan yang tersebar dan tertutup. Sehingga, kata Ryamizard, dalam penanganannya sangat memerlukan penanganan kolektif melalui kolaborasi kapabilitas dan interaksi antarnegara yang intensif, konstruktif, dan konkret.

Di kawasan Asia Tenggara, dia menyebut, Filipina Selatan telah dijadikan sebagai salah satu basis kekuatan ISIS yang ikut memicu aksi-aksi teror lain di kawasan Asia Tenggara. Guna mengatasi potensi ancaman terorisme dan radikalisme ini, sambung dia, Indonesia bersama Filipina dan Malaysia telah mengambil langkah-langkah kerja sama melalui pembentukan platform kerja sama trilateral di Laut Sulu yang diisi dengan kegiatan patroli bersama.

Masalah kawasan lain yang tidak luput dari perhatian Ryamizard adalah krisis Rohingnya di Myanmar. Dia mengatakan, saat ini sangat diperlukan penanganan bersama di kawasan yang tepat sasaran. "Karena bila tidak ditangani dengan baik dan benar, para pengungsi yang rapuh ini dapat direkrut oleh kelompok ISIS untuk memperkuat jaringannya," ucap Ryamizard.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement