Ahad 03 Dec 2017 10:07 WIB

50 Ton Ikan di KJA Danau Maninjau Mati

Danau Maninjau (Ilustrasi)
Foto: .
Danau Maninjau (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, LUBUKBASUNG -- Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Agam, Sumatera Barat mencatat sekitar 50 ton ikan milik pembudidaya keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau, mati mendadak. Diduga, kematian ikan akibat angin kencang disertai curah hujan tinggi melanda daerah itu semenjak Ahad (26/11) lalu.

"50 ton ikan yang mati ini dengan berbagai ukuran mulai dari ukuran tiga sampai tujuh sentimeter," kata Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Agam, Ermanto di Lubukbasung, Ahad (3/120.

Ikan yang mati ini berasal dari puluhan unit keramba jaring apung milik 15 pembudidaya ikan yang tersebar di Bayua, Linggai, Duo Kito, Tanjung Sani dan Koto Melintang. Akibat kejadian ini, pembudidaya ikan mengalami kerugian sekitar Rp 1,5 miliar karena harga per kilogram sebesar Rp 30 ribu. "Saat ini ikan sudah mengapung ke permukaan danau dengan keadaan sudah membusuk," tambahnya.

Menurut dia, kematian ikan ini terjadi semenjak Senin (27/11), akibat angin kencang dan curah hujan cukup tinggi melanda daerah itu semenjak Minggu (26/11). Setelah itu, ikan mengalami pusing dan beberapa jam ikan sudah mengapung kepermukaan danau.

"Ini akibat pembalikan air dari dasar danau ke permukaan, sehingga oksigen berkurang karena di dasar danau terdapat tumpukan sisa pakan ikan cukup banyak," tegasnya.

Dengan kematian ini, pihaknya mengimbau pembudidaya agar segera memanen ikan yang sudah siap panen dan memindahkan ke kolam air tenang. Selain itu, mengurangi pemberian pakan ikan, hidupkan mesin oksigen dan lainnya. "Ini untuk meminimalkan kematian ikan yang dapat menambah kerugian bagi pembudidaya," ujarnya.

Sebelumya, pihaknya telah mengimbau pembudidaya untuk tidak melakukan aktifitas budidaya ikan beberapa tahun kedepan di Danau Maninjau. Ini dalam mengurangi pencemaran danau akibat sisa pakan, karena kondisi danau vulkanik ini dalam keadaan tercemar berat.

Salah seorang pembudidaya ikan, Hendra (35 tahun) mengatakan, kematian ikan ini akibat kekurangan oksigen, karena sebelum kematian angin kencang disertai curah hujan melanda daerah itu. Satu hari setelah kejadian ini, ikan mulai pusing dan mati mendadak termasuk ikan miliknya.

"Ikan milik saya mati sekitar dua ton dengan ukuran siap panen. Agar tidak mengalami kerugian, saya sudah memanen ikan yang masih tersisa," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement