Jumat 20 Oct 2017 08:19 WIB

Soal Pribumi, Ini Saran untuk Mas Anies dari Jaya Suprana

  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno
Foto: Republika/Prayogi
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penggunaan kata pribumi oleh Anies Baswedan telah memicu kontroversi. Sejumlah pihak menuding Anies bersikap rasis, kendati mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu telah menjelaskan bahwa pribumi yang ia maksud adalah mengacu di era kolonialisme.

Budayawan Jaya Suprana dalam artikelnya bertanya-tanya, mengapa sampai sebegitu gaduhnya terhadap penggunaan kata pribumi itu. "Terus terang saya gagal paham mengenai apa sebenarnya yang perlu digaduhkan dari kata "pribumi" yang cuma sekali muncul di dalam orasi perdana Gubernur Anies," ujarnya. 

Jaya Suprana mengaku kenal baik dengan Anies. Sejauh yang ia kenal, Anies bukanlah orang yang rasis. Hanya saja dalam artikelnya Jaya Suprana tetap memberikan saran ke Anies,  Berikut tulisan Jaya Suprana berjudul 'Saran untuk Mas Anies' ;

Ternyata pidato perdana Anies Baswedan setelah dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta menimbulkan kegaduhan. Akibat tidak mendengar pidato tersebut dengan telinga kepala saya sendiri maka saya mencoba mendengarkannya dari video CNN Indonesia yang diunggah di Youtube.

Bagian yang menggaduhkan berada pada menit 06.30-08.00 sebagai berikut "Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Penjajahan di depan mata selama ratusan tahun. Di tempat lain penjajahan mungkin terasa jauh. Tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari. Karena itu, bila kita merdeka maka janji-janji itu harus terlunaskan bagi warga Jakarta. Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan, kini telah merdeka. Kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai, Jakarta ini seperti yang dituliskan dalam pepatah Madura; 'Itik se atellor, ajam se ngeremmih'. Itik yang bertelur ayam yang mengerami. Kita yang bekerja keras untuk merebut kemerdekaan, mengusir kolonialisme, kita semua harus merasakan manfaat kemerdekaan di Ibu Kota ini".

Setelah mendengar unggahan Youtube tersebut, terus terang saya gagal paham mengenai apa sebenarnya yang perlu digaduhkan dari kata "pribumi" yang cuma sekali muncul di dalam orasi perdana Gubernur Anies.

Maklum daya tafsir saya memang rendah maka saya tidak berhasil memahami kenapa kata "pribumi" yang digunakan oleh Gubernur Anis digaduhkan. Saya makin gagal paham karena menurut daya tafsir pribadi saya, Gubernur Anis menggunakan istilah "pribumi" dalam makna positif, bahkan konstruktif dalam konteks sejarah Jakarta ditindas kaum penjajah yang sebaiknya tidak dilanjutkan di masa kini dan di masa depan.

Rasanya mustahil bahwa para penggaduh memang ingin melestarikan penindasan rakyat di Jakarta. Maka saya mencoba menelaah apa sebenarnya makna kata "pribumi".

Makna

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "pribumi" adalah sebuah kata benda bermakna "penghuni asli ; yang berasal dari tempat yang bersangkutan". Anonim "pribumi" dalam bahasa Melayu adalah "bumiputera" yang di Indonesia tidak pernah dihebohkan, bahkan sejak 1912 lestari diabadikan sebagai nama AJB Bumiputera.

Di alam akademis, kata "pribumi" yang lazim digunakan oleh para antropolog sebagai identitas para penduduk asli, seperti Maya, Inka, Apache, Comanche di Benua Amerika, Aborijin di Benua Australia, Maori di Selandia Baru, Eskimo-Aleut di Alaska.

Bahkan pada bulan Agustus 2016, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah resmi meminta maaf kepada kaum Austronesia sebagai pribumi Taiwan yang teraniaya selama berabad-abad.

Setelah cermat menelaah makna kata "pribumi", alih-alih tercerahkan saya malah makin gagal paham mengenai kenapa kata "pribumi" yang diucapkan Gubernur Anis sampai sedemikian digaduhkan di persada Nusantara masa kini.

"De facto" sekaligus "de jure" saya adalah seorang warga Indonesia sama halnya dengan Anies Baswedan adalah seorang warga Indonesia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement