Rabu 28 Sep 2016 21:29 WIB

Mereka yang Hadir untuk Korban Longsor Sumedang

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Karta Raharja Ucu
Penduduk dari lokasi longsor berkumpul di pengungsian, di GOR Tadjimalela, Kabupaten Sumedang, Rabu (21/9)
Foto: Republika/Edi Yusuf
Penduduk dari lokasi longsor berkumpul di pengungsian, di GOR Tadjimalela, Kabupaten Sumedang, Rabu (21/9)

REPUBLIKA.CO.ID, SUMEDANG -- Tanah longsor di jalur Cadas Pangeran, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menyita banyak keprihatinan semua pihak, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang. Berbagai unsur dari kalangan Pemerintah maupun instansi lain, termasuk mahasiswa turun langsung berusaha membantu para warga yang menjadi korban tanah longsor tersebut. Salah satunya Lukman yang merupakan Satgas BPBD Kabupaten Sumedang.

Bagi Lukman, bencana yang memakan banyak korban jiwa tersebut menjadi ikhtiar untuk dirinya guna membantu para warga yang menjadi korban. Termasuk mereka yang masih mengungsi saat ini di GOR Tadjimalela dan Makodim 0610/Sumedang.

Lukman berusaha memberikan yang terbaik agar para korban bisa selamat dan terjamin selama berada di pengungsian. Tugas yang diembannya merupakan salah satu cara berbuat baik kepada orang lain.

"Sukanya bisa membantu pengungsi,  bisa berbuat baik buat orang lain walaupun bukan dengan harta," ujarny kepada Republika, Rabu (28/9).

Menurut dia, setiap hari dirinya menghabiskan waktu untuk bisa memberikan pertolongan bagi para korban. Namun, di sisi lain waktu yang sepenuhnya diperuntukan untuk para pengungsi menyebabkan kesempatan dirinya untuk bertemu anak sangat minim.

Sebab, Lukman mengatakan dirinya tiap hari pergi pada pagi hari dan pulang malam bahkan dini hari. Hal itu yang menyebabkan kesempatan untuk bertemu dengan anak sangat minim. "Dukanya jarang ketemu dengan anak, pergi pagi pulang malam," ucap dia.

Meski begitu, upaya pertolongan dan bantuan kepada para korban longsor merupakan tugas utama dan prioritas yang harus dikerjakan sebagai satgas BPBD Kabupaten Sumedang. Lukman mengaku  sudah banyak menghadapi peristiwa bencana sehingga setiap ada kejadian. Maka ia mengaku sudah terbiasa untuk melakukan upaya pertolongan kepada warga yang menjadi korban.

"Spontanitas ketika mendengar kejadian langsung bergerak reflek saja," ungkapnya.

Namun, saat melakukan pekerjaan pertolongan pengurangan resiko bencana seringkali masyarakat ingin tahu mengenai peristiwa bencana yang sedang terjadi. Sehingga, kadangkala hal itu menganggu pekerjaan yang tengah dilakukan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement