Ahad 03 Apr 2016 10:14 WIB

Pasien DBD di Yogyakarta Naik 100 persen

Rep: Yulianingsih / Red: Andi Nur Aminah
Balita penderita demam berdarah Dengue (DBD)
Foto: Antara/Jojon
Balita penderita demam berdarah Dengue (DBD)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Dalam sebulan terakhir kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Yogyakarta naik 100 persen. Bahkan kasus kematian akibat DBD di Yogya dalam sebulan terakhir juga bertambah.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu mengatakan, hingga akhir Maret 2016, jumlah pasien DBD di Kota Yogyakarta mencapai 270 orang. Jumlah ini naik 100 persen dari kasus di bulan Februari yang hanya mencapai 140 orang dan 82 kasus di Januari lalu. "Peningkatannya memang signifikan namun kita tidak menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB)," ujarnya, Ahad (3/4).

Bahkan menurutnya, kasus kematian akibat DBD juga bertambah satu. Hingga Maret kemarin jumlah pasien yang meninggal akibat DBD mencapai 4 orang dari data Februari 3 orang. 

Korban meninggal akibat demam berdarah yang terakhir tercatat  warga Kelurahan Bumijo, Jetis. Sebelumnya, tiga korban adalah warga Kelurahan Patehan Kraton, warga Kelurahan Kricak Tegalrejo, dan warga Jetis. "Selama Maret kemarin agak tinggi peningkatannya. Dalam sehari bisa lima hingga sepuluh orang yang terjangkit demam berdarah," katanya.

Meski mengalami peningkatan signifikan namun jika dibandingkan dengan triwulan pertama pada tahun lalu, jumlah kasus DBD di Yogya justru hampir tidak mengalami lonjakan. Meski sudah banyak korban, Dinas Kesehatan belum ingin mengajukan status KLB karena banyak pertimbangan. Salah satunya lantaran Kota Yogya merupakan kota pelajar dan mahasiswa. Sehingga status KLB bisa membawa dampak buruk terhadap citra tersebut. 

Apalagi kata dia, kasus demam berdarah di daerah lain juga merebak. Oleh karena itu, Endang menegaskan pemberantasan sarang nyamuk kini menjadi fokus utama menanggulangi demam berdarah. Hal ini lantaran angka bebas jentik nyamuk di Kota Yogya saat ini hanya 79 persen, sedangkan standarnya adalah 95 persen. 

"Artinya tiap 100 rumah di Kota Yogya, baru 21 rumah yang bebas jentik. Karena itu, kami galakkan tiap rumah ada jumantiknya," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga tidak menyarankan fogging atau pengasapan. Hal ini karena tidak efektif memberantas nyamuk serta lebih banyak dampak negatifnya akibat asap yang mengandung pestisida. Apalagi, pengasapan juga justru membuat nyamuk dewasa semakin resisten.

Sementara untuk mempercepat penanganan, saat ini semua puskesmas di Kota Yogya juga sudah tersedia reagen deteksi infeksi atau NS. Yakni sebuah alat semacam test pack yang bisa mendeteksi demam berdarah lebih cepat. Dengan demikian diagnosa bisa diketahui lebih dini sehingga mempercepat penanganan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Fita Yulia Kisworini mengatakan, melalui gerakan satu rumah satu jumantik maka diharapkan perkembangan nyamuk ppenyebab DBD semakin minim. "Program ini tentunya diikuti gerakan hidup bersih baik dii rumah maupun di lingkungan," ujarnya.

Apalagi kata Fita, pihaknya memiliki petugas survailans kesehatan di setiap kelurahan. Petugas ini akan melakukan deteksi dini penyakit dan pemantauan kesehatan masyarakat di lingkungannya. Dengan begitu jika terjadi atau ditemukan masalah kesehatan akan langsung ditangani. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement