Ahad 17 Jan 2016 23:15 WIB

Bupati Bantaeng Makmurkan Warga Kaloling dengan Cokelat

Rep: C39/ Red: Ilham
 Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah memaparkan penhjelasannya dalam diskusi yang bertemakan
Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah memaparkan penhjelasannya dalam diskusi yang bertemakan "Percepatan Pembangunan Daerah" yang diadakan di salah satu cafe di Jakarta, Selasa (7/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bupati Bantaeng, provinsi Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah memakmurkan warga desa Kaloling, Kecamatan Gantarangkeke dengan cokelat atau pohon kakao. Nurdin mengatakan, masyarakat desa Kaloling sebelumnya tidak dapat mengelola cokelat denga baik.

Namun, saat ini telah banyak masyarakat yang hidupnya tergantung pada cokelat. "Alhamdulillah masyarakat kaloling bermata pencaharian pertanian, penghasil kakao. Projek yang kita bangun di kecamatan ini adalah pengembangan cokelat organ," kata Nurdin saat mendampingi Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa yang berkunjung ke desa tersebut , Ahad (17/1). (Seikat Petai untuk Menteri Khofifah).

Bupati yang pernah menerima penghargaan Tokoh Perubahan tahun 2014 dari Republika.co.id, tersebut mengatakan, sebelum mengembangkan cokelat olahan tersebut produksi cokelat di kecamatan Gantarangkeke hanya mencapai 250 kilo per hektar. Namun, kata dia, karena Universitas Hasanuddin (Unas) bekerja sama dengan Kemensos, dan atas bantuan beberapa lembaga penelitian saat ini sudah bisa menghasilkan sebanyak 3 ton per hektar.

"Tadinya kulit coklat juga menjadi limbah, sekarang alhamdulillah masyarakat sudah mampu merubah menjadi pupuk," katanya

Selain itu, lanjut dia, saat ini telah hadir juga perusahaan dari Jepang yang membantu masyarakat untuk membuat selai sendiri. Ia berharap agar nantinya desa tersebut juga bisa menjadi salah satu penghasil cokelat olahan di daerah kekuasannya. "Jadi, masyarakat sudah tidak menjual lagi coklat, tapi cokelat olahan," katanya

Tidak hanya penghasil cokelat, kata dia, seluruh desa di kecamatan Gatarangkek juga merupakan penghasil buah-buahan, seperti duren, rambutan, duku dan lainnya. "Kalau ibu menteri tadi mengatakan, wah bagus-bagus rumahnya di sini? Saya jawab ini karena program Rutilahu (Rumaha Tinggal Layak Huni) bu," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement