Ahad 25 Oct 2015 18:44 WIB

Anak Gunung Rinjani Meletus, Jauhi Danau Segara Anak

Aktivitas Gunung Barujari yang berada di tengah danau Segara Anak mengeluarkan debu vulkanik saat meletus di Sembalun, Lombok Timur, NTB, Ahad (25/10).
Foto: Antara/Lalu Edi
Aktivitas Gunung Barujari yang berada di tengah danau Segara Anak mengeluarkan debu vulkanik saat meletus di Sembalun, Lombok Timur, NTB, Ahad (25/10).

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Petugas vulkanologi di Pos Pengamat Gunung Api Rinjani, Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Mutaharlin, merekomendasikan agar masyarakat tidak mendekati Danau Segara Anak karena dekat dengan Gunung Barujari yang meletus.

"Letusan memang masih tergolong kecil dan lemah, tapi kami sudah merekomendasikan kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), agar jangan mendekati Danau Segara Anak," kata Mutaharlin ketika dihubungi dari Mataram, Ahad (25/10).

Gunung Barujari dengan ketinggian 2.296 - 2.376 meter dari permukaan laut (mdpl) dan berada di sisi timur kaldera Gunung Rinjani meletus pada Ahad (25/10), sekitar pukul 10.45 WITA, dan hingga saat ini masih mengeluarkan asap disertai abu.

Gunung Barujari juga disebut sebagai anak Gunung Rinjani oleh masyarakat Pulau Lombok karena terbentuk di area Danau Segara Anak Gunung Rinjani pada 1944. Mutaharlin mengaku saat ini masih memantau kondisi Gunung Barujari yang mengeluarkan asap disertai debu dengan ketinggian sekitar 300 meter. Asap bercampur debu tersebut diduga mengandung racun, sehiingga berbahaya bagi manusia.

"Ketinggian letusan asap disertai debu saat ini hanya berdampak di sekitar tubuh Gunung Barujari, beda kalau ketinggiannya sampai 3.000 meter asap dan abu vulkanik bisa menyebar ke mana-mana," ujarnya.

Menurut dia, letusan Gunung Barujari masih tergolong efusif atau skala kecil, belum belum tergolong eksplosif atau letusan gunung api yang menyemburkan material vulkanik ke udara, baik itu berupa lava pijar, batu kerikil, sampai pasir dan debu vulkanik.

Dengan demikian, belum bisa dipastikan berapa jarak aman dari lokasi letusan. Namun, Mutaharlin mengaku sudah melaporkan letusan Gunung Barujari ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, agar segera menetapkan status gunung tersebut.

"Kalau status dinaikkan menjadi waspada maka jarak aman minimal enam kilometer dari pusat letusan, tapi saya masih menunggu informasi dari Vulkanologi pusat," ucapnya.

Dia berharap letusan Gunung Barujari tidak membesar dan segera berakhir agar aktivitas pendakian oleh para wisatawan mancanegara dan domestik bisa kembali normal, sehingga masyarakat sekitar tetap bisa memperoleh manfaat ekonomi.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement