Selasa 20 Oct 2015 14:41 WIB

Kekeringan di Jateng Bagian Selatan Makin Meluas

 Petani sedang mengumpulkan padi yang mengalami kekeringan di Kampung Setu, Bekasi Barat, Kamis (30/7).  (Republika/Tahta Aidilla)
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Petani sedang mengumpulkan padi yang mengalami kekeringan di Kampung Setu, Bekasi Barat, Kamis (30/7). (Republika/Tahta Aidilla)

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Kekeringan di wilayah Jawa Tengah bagian selatan khususnya Kabupaten Cilacap dan Banyumas semakin meluas, kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo.

"Dari pantauan kami, wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem semakin meluas. Ini karena beberapa wilayah yang sebelumnya masuk kategori kemarau sangat panjang, kini menjadi kekeringan ekstrem," katanya di Cilacap, Selasa (20/10).

Menurut dia, suatu wilayah masuk kategori kekeringan ekstrem jika lebih dari 60 hari tidak ada hujan, sedangkan kemarau sangat panjang jika dalam kurun 31-60 hari tidak ada hujan.

Bahkan, kata dia, ada beberapa wilayah yang telah lebih dari 90 hari tidak ada hujan, antara lain daerah-daerah di pesisir selatan Cilacap, wilayah barat Cilacap, sebagian Kabupaten Banyumas, Kebumen, dan Purworejo.

Selain itu, lanjut dia, kebakaran hutan juga banyak terjadi dan terakhir kali melanda kawasan hutan milik Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, pada Senin (19/10).

Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut disebabkan pengaruh fenomena El Nino di wilayah Jateng selatan masih kuat. "Kami prakirakan awal musim hujan di wilayah Cilacap, Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara akan berlangsung mulai dasarian (10 hari) pertama bulan November dengan masa transisi relatif pendek. Sementara awal musim hujan di wilayah Kebumen dan Purworejo diprakirakan pada dasarian kedua bulan November," katanya.

Dia mengakui bahwa tanda-tanda akan datangnya musim hujan sebenarnya mulai terlihat dan dapat dirasakan, antara lain adanya pembentukan awan hujan dan hawa terasa panas meskipun suhu udara hanya berkisar 29-30 derajat Celcius.

Sementara suhu permukaan laut, kata dia, saat ini telah mencapai kisaran 28-29 derajat Celcius. Akan tetapi, lanjut dia, awan-awan hujan yang telah terbentuk itu tersapu oleh angin kencang akibat pengaruh badai di Filipina dan Samudra Pasifik.

"Selama masih ada badai, pertumbuhan awan akan terganggu. Namun dalam beberapa hari ke depan, kekuatan badai tersebut mulai melemah," jelasnya.

sumber : Antara

Seberapa tertarik Kamu untuk membeli mobil listrik?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement