REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Proses demokrasi Partai Amanat Nasional (PAN) di kongres lalu memang berlangsung panas. Namun, partai yang lahir era reformasi ini mampu berjalan mulus hingga sekarang. Wakil Ketua Umum PAN, Bima Arya mengatakan, kunci suksesnya PAN melewati badai perpecahan ada di dua tokoh yang saat itu bertarung untuk posisi ketua umum, Hatta Rajasa dan Zulkifli Hasan.
Keduanya, kata Bima Arya, memberikan keteladanan dan sikap seorang negarawan sejati. Saat itu, imbuh Walikota Bogor ini, kongres berlangsung panas hingga terjadi pelemparan kursi yang membuat salah seorang kader harus mendapat perawatan rumah sakit. Pascainsiden itu, Hatta dan Zulkifli bertemu dalam satu ruangan dan memutuskan untuk memercepat proses pemilihan ketua umum.
"Kelegawaan keduanya membuat PAN hingga saat ini tidak pecah," kata Bima Arya di Jakarta, Selasa (19/5).
Bima Arya mengakui, saat itu kondisi PAN memang sedang di ambang perpecahan. Intrik kedua pendukung berpotensi menciptakan cerita perpecahan di tubuh partai berlambang matahari terbit ini. Namun, dua tokoh yang sudah seperti kakak-adik ini membuat potensi perpecahan PAN tidak menemukan jalan.
"Kalau tidak ada kelegawaan keduanya, mungkin cerita perpecahan PAN masih panjang sampai sekarang," imbuh dia.
Dalam kongres yang berlangsung di Bali itu, Zulkifli akhirnya mampu mengungguli Hatta Rajasa dan melangkah menjadi ketua umum PAN periode 2015-2020. Menjabat sebagai ketua umum, Zulkifli juga mengakomodir loyalis Hatta di kongres. Bahkan, Bima Arya termasuk barisan pendukung Hatta di kongres yang juga diakomodir masuk dalam kepengurusan PAN.
"Keteladanan mereka, kelegawaan mereka, kesepakatan mereka membimbing kita untuk mengakhiri ini dengan damai," kata Bima Arya.