Rabu 13 May 2015 13:12 WIB

Alasan Penyerapan 'Gas Melon' Rendah Saat Operasi Pasar

Gas ukuran 3 kg alias gas melon.
Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Gas ukuran 3 kg alias gas melon.

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Pertamina menggelar operasi pasar (OP) gas elpiji di wilayah Ungaran Timur, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (13/5). OP dilakukan menanggapi informasi soal kelangkaan elpji 3 kilogram bersubsidi di kecamatan ini yang disebut memicu kenaikan harga hingga Rp 20 ribu per tabung dari harga eceran resmi Rp 15.500 per tabung.

Namun, selama operasi digelar, penyerapan elpiji 3 kilogram atau biasa disebut 'gas melon' yang ditawarkan Pertamina di kecamatan ini terbilang rendah. 

Seperti dikutip dari keterangan tertulis External Relation Pertamina Marketing Operation Reg IV yang diterima ROL, Selasa (12/5), hanya 93 tabung yang terjual dari 560 tabung yang disediakan dalam OP tersebut.  

Menurut Pertamina ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan rendahnya penyerapan tersebut. Salah satunya karena end user rumah tangga sebenarnya belum perlu melakukan pembelian gas melon. Ada dugaan, isu 'kelangkaan' sengaja digulirkan pengecer atau spekulan untuk melakukan aksi borong.

"Pengecer menggunakan media sebagai alat informasi yang menginfokan kelangkaan di daerah tertentu, sehingga Pertamina kemudian melakukan operasi pasar (OP). Operasi pasar ini kemudian tidak tepat sasaran dan justru dimanfaatkan pengecer untuk memborong elpiji 3 kg bersubsidi dan tetap menjualnya kembali dengan harga tinggi,"  demikian seperti dikutip dari keterangan tertulis Pertamina. 

Pertamina pun menampik dugaan rendahnya penyerapan gas tersebut karena pelaksanaan OP yang tidak maksimal.

Terkait pembatasan pembelian, dengan syarat satu kartu identitas (KTP) untuk satu tabung gas, dilakukan agar penyaluran gas harga resmi bisa tepat sasaran dan pengecer tidak bisa melakukan aksi borong.

Pertamina menyatakan bakal memberikan sanksi tegas bagi Lembaga Penyalur Resmi Elpiji 3 kilogram bersubsidi yang terbukti melayani pembelian kepada pengecer atau spekulan. Itu karena pengecer kerap mempermainkan harga menjadi mahal dan masyarakat menjadi korban, serta terjadi isu kelangkaan LPG di masyarakat.

Pertamina pun mengimbau masyarakat untuk membeli elpiji 3 kg bersubsidi di pangkalan LPG sebagai lembaga penyalur yang resmi. Masyarakat dapat melaporkan segala tindak kecurangan dan penyimpangan melalui contact center Pertamina di nomor 500-000 (menggunakan kode area 024/021 jika melalui handphone) atau sms ke nomor 08159500000 dan email ke [email protected].

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement