Senin 16 Mar 2015 01:00 WIB

Dari Koran Bekas, Miniatur Ini Diekspor ke Jerman

Pengunjung memerhatikan aneka souvenir yang terbuat dari kayu ebony (kayu hitam) di salah satu galeri kerajinan di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (21/2). (ilustrasi)
Foto: Antara/Basri Marzuki
Pengunjung memerhatikan aneka souvenir yang terbuat dari kayu ebony (kayu hitam) di salah satu galeri kerajinan di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (21/2). (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kerajinan berupa replika berbentuk perahu, becak, mobil dan pesawat terbang dari kertas koran bekas karya Wahyudi (39) mampu menembus ekspor ke Jerman. 

Limbah koran yang biasa berserakan di tempat sampah oleh Wahyudi diolah menjadi karya berkualitas. Di tangan pria itu tumpukan koran dapat disulap menjadi kerajinan replika beraneka rupa.

"Awalnya ada pameran di Indocement tahun 2014, seorang warga Jerman yang datang berkunjung dan membeli karya saya, sampai selarang Alhamdulilah sudah ekspor ke Jerman," kata Wahyudi di Bandung, Ahad (15/3).

Kerajinan replika kendataan, pesawat terbang dan lainya ukurannya bermacam-macam, mulai dari setinggi 15 centimeter sampai ukuran besar setinggi 30 centimeter. Replika berukuran ekcil ia jual seharga Rp 50 ribu. Sementara, untuk replika yang besar bisa mencapai ratusan ribu hingga Rp 1 juta. Ia mengaku, replika yang paling sulit untuk dibuat adalah miniatur kapal layar. Untuk membuat satu kapal, diperlukan waktu selama tiga hari.

"Yang susah itu saat membuat benang-benang kapalnya, soalnya rumit dan butuh ketelitian," katanya.

Wahyudi sudah menjalani bisnis tersebut selama tiga tahun. Awalnya, dia membantu temannya yang menjalani bisnis serupa. Namun karena temannya berhenti, akhirnya Wahyudi yang meneruskan usaha itu. Sebelum menggunakan kertas koran, ia membuat kerajinan dari bambu dan botol bekas. Namun karena kurang diminati pasar beralih menggunakan limbah koran sebagai bahan baku baru untuk membuat replika. Ternyata, replika dari koran hasilnya lebih bagus dan lebih disukai pembeli.

"Saya kira masyarakat Indonesia bisa lebih bijak untuk mengelola limbah-limbah bekas, agar tidak mencemari lingkungan sekitar, dan ternyata bisa menjadi produk yang memiliki nilai seni dan bernilai tambah," katanya Wahyudi.

 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement