Selasa 03 Mar 2015 18:50 WIB
Eksekusi Mati Gembong Narkoba

Indonesia tak Mau Terpancing Insiden di Australia

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Angga Indrawan
PM Australia Tony Abbott menyalami Presiden RI Joko Widodo saat menyambutnya ke pembukaan pertemuan G20, Sabtu (15/11).
Foto: Reuters
PM Australia Tony Abbott menyalami Presiden RI Joko Widodo saat menyambutnya ke pembukaan pertemuan G20, Sabtu (15/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menerima laporan dari Badan Intelijen Negara (BIN) terkait peristiwa pelemparan balon berisi cairan merah ke kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Sydney, Australia. Pratikno menilai, hal itu hanya insiden kecil yang tak perlu direspons berlebihan.

"Insiden kecil tidak perlu dipikirkan terlalu serius. Kita tidak perlu paranoid," ujarnya di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/3).

Pratikno mengaku, pihak KJRI Sydney juga tidak menelusuri motif pelaku pelemparan. Hanya saja, Kedutaan Besar Indonesia untuk Australia tetap meminta kepolisian setempat meningkatkan pengawasannya agar kejadian serupa tak terulang.

Jokowi sendiri, kata Pratikno, tak mengeluarkan instruksi khusus terkait hal itu. Presiden menegaskan bahwa Indonesia harus tetap menjalin hubungan yang baik dengan Australia.

"Kita tetap dua negara yang bersahabat," kata dia.

Meski Indonesia bersikukuh akan mengeksekusi mati WNA asal Australia, lanjut Pratikno, presiden meyakini hubungan kedua negara akan tetap terjalin baik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement