Ahad 25 Aug 2019 19:36 WIB

85 Rumah Rusak Akibat Bencana di Sukabumi Sejak Januari

BPBD Kabupaten Sukabumi mencatat kerusakan rumah akibat bencana

Rep: ayobandung.com/ Red: ayobandung.com

SUKABUMI, AYOBANDUNG.COM -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat selama kurun waktu Januari hingga Juni tahun ini jumlah rumah yang rusak akibat bencana mencapai 85 unit.

"Jumlah rumah yang rusak tersebut tersebar di 23 kecamatan dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi," kata Kepala Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi Daeng Sutisna di Sukabumi, Ahad (25/8).

Rinciannya, jumlah rumah yang rusak berat sebanyak 23 unit, rusak sedang sebanyak 56 unit, dan rusak ringan sebanyak 6 unit, serta 93 rumah lainnya terancam bencana. Kejadian bencana yang terjadi di Sukabumi di antaranya tujuh kebakaran, 56 longsor, 5 banjir, 5 angin puting beliung, dan satu pergerakan tanah.

Bencana yang terjadi di kabupaten terluas di Pulau Jawa dan Bali itu, kata dia, tidak hanya merusak rumah, tetapi juga fasilitas umum dan sosial lainnya seperti lima jembatan rusak sedang.

Kemudian saluran air sebanyak tiga unit rusak berat dan 13 rusak sedang, enam unit tempat ibadah rusak sedang, enam sekolah rusak sedang, dan juga merusak jalan di sembilan titik serta 17 titik sawah atau lahan pertanian.

Menurut Daeng, jumlah kerusakan ini baru rekapitulasi pihaknya dalam tujuh bulan terakhir ini dan dipastikan akan bertambah apalagi pada Agustus 2019 ini terjadi gempa bumi berkekuatan 6,9 magnitudo  yang berpusat di Kabupaten Sumur, Provinsi Banten mengakibatkan ratusan rumah di Kabupaten Sukabumi rusak.

"Meskipun demikian, bencana yang terjadi ini tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa, hanya dua warga saja yang terluka itu pun luka ringan. Namun, akibat bencana ini kerugiannya mencapai Rp4 miliar lebih," tambah Daeng.

Ia mengatakan Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu daerah di Indonesia yang paling rawan terjadi bencana. Pada musim kemarau ini bencana didominasi kebakaran dan kekeringan yang jumlahnya meningkat sejak empat bulan terakhir atau mulai April.

Maka dari itu, untuk antisipasi terjadinya bencana,  khususnya di musim kemarau ini masyarakat diminta agar tidak melakukan aktivitas yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran baik rumah, hutan maupun lahan.

"Dan yang terpenting untuk selalu mengawasi dan memeriksa kompor dan jaringan listrik yang bisa memicu terjadinya kebakaran," ujar Daeng Sutisna.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ayobandung.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ayobandung.com.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement